Blogger Tricks

Saturday, June 27, 2015

>>>BISSU: Pendeta Bugis - 2

BISSU: Pendeta Bugis - 1 
     Secara genetis seorang Bissu adalah pria tulen, meskipun belakangan seorang wanita juga berpeluang diangkat menjadi Bissu. Ketakjelasan identitas gender para Bissu di mata umum lebih disebabkan oleh dandanan mereka yang feminin. Mereka berkerudung, membawa kipas dan mengenakan pakaian menyerupai gaun wanita. Namun maskulinitas Bissu nampak dari senjata berupa badik atau keris yang selalu terselip di pinggang. Filosofi Bissu adalah keseimbangan antara unsur maskulin dan feminin dalam satu individu, baik pada pria maupun pada wanita.
    Perbedaan mencolok antara seorang waria dan Bissu adalah pada aturan bahwa se-orang Bissu tak boleh menikah ataupun melakukan hubungan seksual, berbeda dengan kesan homo pada waria maupun di kalangan lesbian. Dari segi kesaktian, seorang Bissu bisa dianggap setara dengan para jawara silat. Meskipun tak digunakan dalam sebuah situasi konflik, tubuh para Bissu kebal terhadap senjata tajam. Hal ini bisa kita saksikan saat ritual khas kaum Bissu, yaitu Maggiri, diselenggarakan.
img.  Tarian Ritual Maggiri
Keputusan seseorang untuk dapat menjadi Bissu tak datang begitu saja. Biasanya, seorang calon Bissu akan diberitahu lewat mimpi oleh para leluhur atau Bissu senior yang telah wafat. Setelah dilaporkan kepada pimpinan Bissu maka berbagai ritual dan prosesi akan dilakukan untuk mengesahkan sang calon menjadi Bissu.

Masuknya pengaruh Islam membawa dampak besar terhadap eksistensi Bissu. Peran mereka tergusur oleh lembaga Kadi. Padahal, meskipun di mata ketauhidan Islam perilaku dan ritual kaum Bissu dikategorikan kufur/sesat, terdapat banyak nilai kearifan lokal terutama tentang keselarasan dengan alam dapat kita pelajari dari mereka. Penentuan saat mulai bertanam bagi petani atau melaut bagi para nelayan adalah salah satu contoh bagaimana kaum Bissu dikaruniai Sang Pencipta kemampuan untuk berkomunikasi dengan alam. Mereka juga memiliki pengetahuan serta keahlian dalam hal penyelenggaraan upacara kelahiran, kematian, menolak bencana hingga pada ritual suksesi kekuasaan seorang raja.

Sistem pemerintahan yang berubah dari bentuk kerajaan menjadi negara kesatuan berbentuk republik juga turut memperparah eksistensi Bissu di tengah masyarakat Bugis. Peran sebagai penasehat raja terlucuti. Nafkah dari kerajaan pun tak lagi ada. Mereka terlunta-lunta dan harus bertahan hidup dari jerih payah sendiri. Habitat Bissu tergerus dan nyaris tak tersisa. Kepedulian segelintir warga menjadi harapan satu-satunya untuk terus bertahan dan memperjuangkan eksistensi mereka.
Bersambung.. 


No comments:

Post a Comment