Blogger Tricks

Sunday, December 29, 2019

>>> PAPUA, BERLIAN DI GERBONG TERAKHIR


Sabang hingga Merauke, itulah bentang rangkaian pulau-pulau besar dan kecil dalam bingkai Nusantara kita. Terhampar indah mengukir samudera biru, melukis hamparan laut di sepanjang garis katulistiwa. Meski Indonesia  telah merdeka sejak tahun 1945, Papua baru secara resmi menjadi bagian wilayah NKRI pada tahun 1963.

Sebuah fakta, bahwa Papua, selain Timor-Timur yang pernah masuk sebagai teritori Indonesia, adalah tergolong wilayah-wilayah dengan laju pembangunan paling tertinggal dibanding wilayah lain di Nusantara. Selain faktor sejarah, kebijakan Negara selama ini memang terlihat kurang memberi porsi  ideal bagi kemajuan dan perkembangan wilayah Papua. Untung saja keadaan ini tak lagi berlarut-larut.

Pembangunan telah mulai terasa dengan selesainya beberapa proyek jalan, jembatan, pelabuhan maupun bandara di Jayapura, Manokwari, Sorong dan Merauke. Jalan utama penghubung antar propinsi pun tengah dibangun secara masif. Sebentar lagi, warga Papua akan setara dengan saudara-saudara mereka dalam merasakan nikmat kemerdekaan yang telah lama diproklamasikan itu.

Kondisi masyarakat tradisional Papua menjadi pekerjaan rumah serius bagi usaha-usaha pemerataan pembangunan di wilayah ini. Kebiasaan hidup di pedalaman dalam jangka waktu lama ikut memperlambat proses adaptasi mereka terhadap pola hidup maupun tatanan perilaku masyarakat perkotaan. Namun semua itu tak akan menjadi kendala jangka panjang, mengingat minat mereka dalam hal pendidikan cukup tinggi. Orang Papua moderen adalah termasuk penutur Bahasa Indonesia yang paling baik yang pernah ada di negeri ini. Salut buat mereka.

Sebagai “anak bungsu”, Papua dapat dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan Negara dalam rangka mewujudkan Sila Kelima Pancasila, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Saat segala bentuk kemajuan peradaban menjelma dan terpampang nyata di wilayah Papua, maka saat itu pulalah Negara telah berhak merayakan keberhasilan dalam rangka mewujudkan cita-cita Proklamasi 1945.

Hal ini menjadi penting, sebab kita adalah termasuk Negara merdeka paling awal setelah Perang Dunia II berakhir, namun juga paling terlambat dalam upaya menyejahterakan kehidupan seluruh warganya. Papua, dengan Sumber Daya Alam melimpah, saat Sumber Daya Manusianya telah sejajar dengan saudara-saudara mereka di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dll. Maka ia akan menjadi sesuatu yang mengagumkan, sesuatu yang ditunggu dan dinanti-nanti oleh para pendiri bangsa.  Papua, bagai Berlian di Gerbong Terakhir.

Semoga kendala politis dan kerikil-kerikil lain tak lagi ada di depan kita. Bersatulah..!!! Majulah Papua, Jayalah Indonesia…!! Selamat datang tahun baru 2020. Selamat datang Indonesia Raya.


Merauke, Desember 2019

@djasMpu

Saturday, June 23, 2018

>>>032 AADB2


Bon-bon mematikan gawai cerdas di tangan. Ia menghela nafas panjang. Perlahan rasa gugup itu  mulai menghilang. Pandangannya kini tertuju pada seseorang di meja berbeda, di depan, namun berada pada deret berbeda dengannya.

Wanita itu masih cekikikan sendiri. Bon-bon baru sadar, wanita itulah yang melintas di samping meja saat hape miliknya hampir saja terjatuh. Ya, saat menerima telpon dari Mercy ia begitu gugup dan hampir saja gawai itu terlepas dari genggaman. Bon-bon merasa konyol, berusaha mengatur posisi duduknya, untuk menegaskan bahwa tak pernah ada peristiwa konyol yang baru saja ia lakukan.

Kini suasana kembali normal terkendali. Bon-bon berusaha tak mengarahkan pandangan pada Sang Wanita. Namun semua tak berlangsung lama.

Ia tiba-tiba saja teringat Mamam. Tapi, kenapa..??

Bon-bon menolehkan wajah kembali. Mereka bertatapan sekejap, sangat singkat, sesingkat satu dua kedipan mata, sebelum Sang Wanita lebih dulu mengalihkan pandangan.

Bon-bon belum melepaskan tatapannya. Dan.... betul saja, Sang Wanita kembali melirik ke arah Bon-bon. Saat itulah Bon-bon melihat kehadiran Mamam di depannya. Ya.. Sang Wanita mengingatkan Bon-bon pada Mamam, tepatnya pada raut wajah Mamam saat masih gadis, sosok seorang wanita tegar, cuek dan tomboi. Tapi Sang Wanita nampak lebih dewasa.

(Hening)

Bon-bon telah menghabiskan dua batang rokok di tangan dan Sang Wanita tetap saja masih berada di sana. Duduk dengan sebelah kaki dinaikkan ke kursi. Nampaknya ia sedang asyik melahap sesuatu di atas meja. Bukan, bukan makanan.. melainkan sebuah buku sebentuk novel. Ia sedang menikmati bacaannya, nikmat sekali. Tatapan tajam, setajam silet, dari mata Bon-bon tak ia hiraukan sedikitpun. Bon-bon merasa tak nyaman, tubuhnya terasa menghilang saat ini.

img. 9 Angels
Baru saja Bon-bon berniat menyapa saat tiba-tiba terdengar suara pemilik kafe memanggil ke arah Sang Wanita, "Nengnong nggak makan? Biasanya langsung nyantap kalo ke sini.."

Wayan, pemilik Kafe, menghampiri Nengnong di pojok depan Kafe.

"Biasanya juga nggak duduk di sini... Tumben.. Ada apa sih, Neng..??!!"

Bon-bon mau tak mau menguping percakapan mereka, "Ooo... Namanya Nengnong. Biasanya nggak duduk di situ. Trus maksudnya apa duduk di meja tepat di depanku..??" Bon-bon bergumam dalam hati.

"Nngggg... Nggada  apa-apa, Bli... Pengen nyari suasana baru aja..." Terdengar suara Nengnong membalas sapaan Wayan. Mereka duduk bersebelahan, bagai kakak adik yang sedang merayakan kebersamaan keluarga.

Bon-bon hanyut dalam lamunannya sendiri. Bayangan Mamam bergelayut dalam ingatan. Tak terasa sudah lebih seminggu ia belum menyapa Sang Ibu tersayang... "Saatnya menelepon Mamam..!!" Bon-bon bergumam sambil bergegas meraih gawai di atas meja. Namun, sebuah video call tiba-tiba saja masuk sesaat tangannya menyentuh gawai. Bon-bon girang bukan kepalang.. Diraihnya gawai ke hadapan wajah yang masih tertutup asap rokok.

"Hi Mike...!!! How are you..??" Suara Bon-bon begitu bersemangat hingga membuat Nengnong dan Wayan terkejut.

"Fine Bond... What about you..??" Suara seorang pria menyapa dari layar gawai.

Keduanya hanyut dalam percakapan hangat. Sudah empat tahun Mike, kakak sepupu Bon-bon dari pihak Ibu, tak pernah memberi kabar tentang keberadaannya. Kini ia sedang berada di tanah Papua setelah berpindah-pindah di berbagai wilayah Nusantara mengikuti instruksi penugasan dari kantor tempat ia bekerja sebagai engineer.

"Eh... Kamu bareng Mamam di Balinya ya..??" Mike memutus percakapan.

"Mamam...??" Bon-bon heran bercampur bingung. Darimana Mike bisa kepikiran kalau ia sedang bersama Mamam..??

Parfum itu.. Ya.. Wangi parfum yang sejak tadi juga telah terekam dalam ingatan Bon-bon. Nengnong baru saja melintas dari belakang setelah kembali dari arah meja prasmanan mengambil sepiring makanan untuk disantap. Wajahnya terekam dalam kamera gawai Bon-bon saat berbincang dengan Mike. Bon-bon kini menyadari asal muasal pertanyaan Mike.

Thursday, June 1, 2017

>>>Hari Lahir PANCASILA

Hari ini telah resmi dijadikan sebagai hari peringatan lahirnya ideologi negara, Pancasila. Tanggal 1 Juni juga menjadi hari libur nasional. Kekhawatiran akan semakin pudarnya pemahaman generasi penerus tentang Pancasila menjadi latar belakang pemerintahan Jokowi dalam mengambil langkah tersebut.

Thursday, May 18, 2017

>>>031 AADB2

Mata Bon-Bon tertuju pada kalung pemberian Sang Kakek. Kenangan tentang pengalaman misterius sebulan lalu kembali mengusik perhatian Bon-Bon. Warnah merah pada batu kalung tetap tak berubah. Saat pertama menerima kalung dari Sang Kakek warnanya kebiruan, berbeda dengan sekarang. Bon-Bon teringat, warna batu itu berubah merah saat mereka telah kembali ke alam nyata.

Tuesday, April 18, 2017

>>>030 AADB2

"Waaahh... lukisannya keren bangeettt...!!" Rini melemparkan pujian pada Paris. 
Kepandaian melukis Paris semakin terasah. Ia memang sangat berbakat. Tak butuh waktu lama untuk mampu menghasilkan lukisan indah layaknya karya para pelukis profesional. Rayi ikut senang. Cukup mudah Sang Guru mengarahkan kemampuan melukis Paris. Dan kini, pujian pertama dari seseorang telah ia dapatkan. 
"Thanks, Rini"

AWESOME Country