Blogger Tricks

Friday, June 7, 2013

>>>ILUSI dan KENYATAAN

     Kesadaran maya, itulah ILUSI. Sebuah fatamorgana. Kita seakan-akan melihatnya sebagai sebuah KENYATAAN. Dan hal tersebut bukanlah kesalahan melainkan sebuah kegagalan untuk menilai hakikat sesuatu.
     Manusia sempurna dilengkapi dengan pancaindra dengan fungsi dan peruntukannya masing-masing, yang akan melengkapi satu sama lain dalam menilai sesuatu secara akurat. Kelima-limanya bekerja menyerupai filter yang menyaring setiap informasi. Kebetulan yang paling dipercaya oleh otak adalah mata kita. Kadang-kadang otak merasa tidak memerlukan bantuan dari keempat indra yang lain. Dalam kondisi inilah sebuah ilusi bekerja.
     Media terbaik untuk sebuah ilusi adalah televisi. Dengan tingkat kesadaran pikiran yang rendah maka apapun yang anda tonton di layar televisi menjelma menjadi sebuah kebenaran sekaligus kenyataan. Perangkat elektronik moderen ini telah menjadi sebuah monster namun dalam kemasan yang menarik dan memikat. Televisi ibarat serigala berbulu domba. Namun demikian benda ini tetaplah sebuah benda mati. Ruh sebenarnya adalah ideologi.
img.  Televisi adalah benda mati
     Televisi dalam perkembangannya telah beranak pinak, sehingga media ilusi itu kini  dapat kita temui dalam bentuk smartphone, notebook, mediaplayer dan perangkat-perangkat lain yang semakin mudah dijangkau dan dijinjing. Maka kemudian terjadilah sesuatu yang disebut revolusi informasi. Dalam sekejap sebuah informasi bisa menyebar ke seluruh dunia hanya dengan satu tekanan tombol. Namun sekali lagi, perangkat-perangkat tersebut tetaplah sebuah benda mati. Ruh sebenarnya adalah ideologi.
     Ideologi yang menyebar melalui media-media elektronik saat ini tidak dapat dilihat dan dirasakan secara nyata. Kembali lagi karena ia telah dikemas dalam lantunan ilusi. Pola pikir anda dituntun dan akan berubah dengan perlahan tanpa terasa. Anda akan tersadar pada saat semuanya telah terlambat.
     Beruntunglah orang-orang yang tidak menyerahkan seluruh urusan kehidupan mereka melalui mata kepalanya. Karena sesungguhnya kebenaran sejati  hanya dapat dikenali dan dijumpai oleh mata hati, mata yang bekerja dalam tingkat frekuensi yang lebih tinggi dan hanya bisa dicapai dengan tingkat kesadaran diri yang memadai pula. Mata hati takkan tersentuh oleh ilusi karena keduanya berada dalam jalur dan gelombang frekuensi berbeda. Meskipun demikian keduanya hanya bisa bekerja jika satu hal telah terpenuhi, yaitu sebuah “cahaya”.
     Sebuah gejala positif telah mulai terasa di mana tayangan-tayangan pencerahan berupa dakwah dan ilmu pengetahuan dikemas dalam acara yang menarik dan menghibur. Waktu kita terbuang tanpa percuma. Bagaikan sebuah cahaya kecil di ujung gua, menawarkan kesegaran dan harapan. Langkah-langkah kecil harus tetap kita ayunkan hingga suatu saat cahaya tadi besinar dan menyelimuti seluruh Bangsa dan Negara tercinta, INDONESIA.



No comments:

Post a Comment