Blogger Tricks

Saturday, August 13, 2016

>>>MONEY - 1

     MRP adalah trisakti Kaum Kapitalis sementara Daulat, Mandiri dan Jati Diri (DMJ) menjadi trisakti seorang Pancasilais. Kekayaan (Money) membangun Kehormatan (Respect) dan Kehormatan adalah jubah Kekuasaan (Power).
     Di negeri Pancasila, Kemerdekaan (Daulat) merupakan syarat Kemandirian dan Kemandirian adalah jubah Kesejatian Diri. Bangsa yang lupa jati diri (Sejarah dan Budaya) akan merasa tak mandiri, merasa inferior, merasa rendah diri. Bangsa yang inferior akan sangat mudah dirampas kemerdekaannya. Begitulah seleksi alam bekerja. Sejarah telah membuktikan. 
img.  Merdeka Seutuhnya
     Jika bangsa ini ingin merdeka, tak sekedar merdeka di atas kertas, maka hal pertama yang perlu dipersiapkan adalah mencari dan  mengenal jati diri bangsa sendiri. Para Founding Father telah menguras fikiran mereka untuk merumuskan Pancasila. Rumusan Pancasila dianggap telah mewakili seluruh nilai dan jati diri masyarakat Nusantara, dari Sabang hingga Merauke. Generasi sekarang tak perlu lagi mengumbar waktu untuk menggalinya sendiri. 
     Kesejatian diri membangun rasa percaya diri dan percaya diri adalah modal utama untuk menegakkan kemandirian bangsa. Percaya bahwa produk negeri sendiri itu lebih baik dan lebih bermutu merupakan jalan bebas hambatan bagi terciptanya kemandirian bangsa. Bangsa mandiri tentu akan sulit untuk didikte semaunya, itu adalah tanda bahwa negerimu negeri merdeka. Sebuah negeri yang benar-benar MERDEKA. 
     Kembali ke MRP sebagai trisula kaum Kapitalis. Para mentor Kapitalis tak perlu bingung untuk menjajah sebuah negeri. Apalagi negeri paternalistik seperti Indonesia. Mereka bermodal kuat. Cukup letakkan uang dan jubah kehormatan pada seorang penguasa (boneka) maka kekuasaan telah bisa diremote sesuka hati. 
     Karena kekuasaan di negeri ini lahir di lingkungan para wakil rakyat (yang seharusnya mewakili rakyat), maka uang dan jubah kekuasaanpun diobral di wilayah ini. Wakil rakyat (boneka) akan tetap bernama wakil rakyat meskipun asupan nutrisi (Money) dan jubah kekuasaan (Respect) yang ada padanya bersumber dari para investor (Power sesungguhnya). Bukan dari rakyat di akar rumput. Rakyat hanyalah supporter pesta demokrasi. Pada prakteknya, rakyat bukanlah pemilik asli demokrasi. 
     Celakanya, rakyat ikut-ikutan memberi penghormatan dan tetap mewakilkan kuasa mereka kepada para wakil rakyat (boneka) yang telah mabuk uang dan kuasa di gedung terhormat sana. Mereka yakin pada logika bahwa: Belum ditunjuk sebagai wakil rakyat saja mereka sudah bagi-bagi duit, apalagi jika mereka telah menjadi wakil kita? 
     Padahal di balik layar, kekayaan dan kehormatan yang dipertontonkan kepada calon pemilih tak lain bersumber dari para investor bermodal kuat dalam berbagai modus dan bentuk. Intinya, seekor anjing akan selalu setia pada Sang Tuan. Pertanyaannya, siapa yang menjadi "Anjing", siapa pula yang menjadi Tuan? Dan kembali lagi, kuncinya adalah UANG!
Next

No comments:

Post a Comment