Blogger Tricks

Tuesday, July 26, 2016

>>>SEMAR SULAWESI

     Semar adalah simbol kebijaksanaan dan kewibawaan orang Jawa. Begitu hebat pengaruh simbol karakter Semar di negeri ini sehingga peralihan kekuasaan dari Bung Karno kepada penggantinya hanya bisa dijalankan dan terlaksana dengan menggunakan sebuah mantra ampuh, "Supersemar". Bahkan keraguan atas keberadaan naskah asli surat sakti tersebut tak kan lagi mampu mengubah sejarah masa lalu Indonesia. Jargon "Supersemar" tak perlu bukti otentik! Toh, yang disasar sesungguhnya adalah alam bawah sadar manusia-manusia nusantara, bukan akalnya.
     Semar memang identik dengan Jawa. Namun benarkah Semar hanya identik dengan Jawa? Menarik bahwa tafsir tentang sosok Semar memiliki kemiripan dengan keagungan dan kekuatan alam yang ada di Pulau Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan. Bagian pulau yang didominasi suku Bugis-Makassar ini mempunyai dua buah pegununungan utama bernama Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang
img.  Gunung Bawakaraeng
     Kedua gunung tersebut memiliki ikatan emosional dan spiritual sangat kuat dalam benak masyarakat tradisional di wilayah ini. Mungkin setara dengan hubungan Gunung Merapi bagi Masyarakat Jogja. Sebuah komunitas Muslim bahkan percaya mereka dapat berhaji di Puncak Gunung Bawakaraeng, tak harus jauh-jauh pergi ke Makkah, Arab Saudi sana. Hebat kan..?? 
     Lantas, hubungannya dengan Semar apa, yah? Sabar, kita simak dulu arti nama kedua gunung ini. Bawakaraeng berarti Mulut Raja. Bisa ditafsirkan sebagai Sabda yang diucapkan seorang Raja. Identik dengan kebijaksanaan dan wibawa dalam karakter tokoh Semar. Wibawa dan kebijaksanaan memang selalu diharapkan menjadi sifat utama seorang Raja. 
     Sementara Lompobattang sendiri memiliki makna Perut Besar. Tak sulit untuk mengasosiasikan kedua kata ini dengan Semar. Fisik Semar sangat identik dengan perut yang buncit. Perut buncit dalam bahasa Makassar  diartikan sebagai Lompobattang. 
     Dalam sebuah naskah lontar terungkap hubungan kedua gunung tersebut sebagai sesuatu yang tak terpisahkan dan saling melengkapi: 
Bulu' Lompobattammo anjo cini Ti’rinna bawakaraeng Iya tea gio Iya tena ta’lenggang-lenggang 
"Gunung Lompobattang dan Gunung Bawakaraeng selalu saling menguatkan, tidak pernah berjalan sendiri-sendiri" 
     Dari kutipan di atas terlihat bahwa sosok maupun karakter Semar lebur dan menyatu dalam rangkaian kedua nama pegunungan sakral di Sulawesi ini. Cukup aneh ternyata saat kita mencermati berbagai hubungan antar budaya maupun geografi di berbagai wilayah nusantara. 
     Seperti; apakah Semar dan Lompobattang juga memiliki ikatan simbolik serupa dengan Kerbau di Tana Toraja atau Kabau di Tanah Minang? Bukankah perut gendut juga identik dengan kerbau? Lihat pula bentuk atap rumah tradisional kedua suku ini yang mengambil lengkungan khas tanduk kerbau. 
     Selain perut gendut yang melambangkan kemakmuran, kerbau juga identik dengan keanggunan. Meskipun tugas utama yang sering dibebankan pada seekor kerbau adalah membajak sawah, terlihat bahwa saat melakukan kerjanya kerbau tetap terlihat anggun dan bersahaja. Tak menampakkan rasa lelah maupun keletihan. 
     Kekuatan, ketabahan serta kesabaran sekaligus keanggunan selain lekat pada karakter Semar, rupanya pun mendekati sifat-sifat alamiah seekor kerbau. Apakah hal ini juga menjadi pertimbangan saat Kompas memilih kerbau dan pengembalanya sebagai logo media tersebut? 
     Dua tafsir tentang sosok Semar nyatanya ada dan mengakar kuat di tanah Sulawesi. Simbol kerbau di Tana Toraja serta makna kedua nama pegunungan terbesar di pulau ini merupakan beberapa contoh sederhana, bahwa simbol tertentu di sebuah daerah bisa juga ada dan terlihat di tempat lain dalam bentuk dan simbolisasi berbeda. 
     Seperti halnya keEsaan Tuhan yang memiliki nama dan sebutan berbeda di setiap daerah, Semar pun mengejawantah di tanah Sulawesi dalam perwujudan simboliknya sendiri. Kedua gunung sakral itu, Bawakaraeng dan Lompobattang, adalah Semar Sulawesi
*****

No comments:

Post a Comment