Blogger Tricks

Friday, June 5, 2015

>>>KERAGAMAN adalah TENAGA

     Bhinneka tunggal ika. Keragaman dalam harmoni. Itulah kekuatan utama negeri kita. Keragaman membuat kita sulit untuk dikendalikan dan digiring oleh kekuatan jahat. Para perusuh harus mengeluarkan lebih banyak usaha dan biaya untuk mengendalikan sesuatu yang banyak dan beragam. Lebih mudah melobby sekumpulan anggota dewan daripada ribuan pemimpin informal di luar sana. Pilkada langsung menjadi gambaran betapa sulitnya menduga dan menggiring opini jutaan kepala yang berisi ide, keinginan serta kebutuhan masing-masing.
img. Diversity needs Harmony
     Untuk mengendalikan massa yang banyak dan beragam, satu-satunya cara adalah dengan lebih dulu menggiring pikiran mereka kepada dua atau lebih kelompok utama (elit). Setelah itu, tinggallah melobby elit-elit tersebut. Partai yang sangat bergantung pada sebuah figur dan satu kelompok elit akan mudah dikendalikan serta dimanipulasi. Bung Hatta mengingatkan untuk menghindari bentuk perjuangan seperti ini. Rakyatlah yang harus bergerak, rakyatlah yang mesti terdidik lebih dulu, rakyat pulalah pada akhirnya yang berhak menentukan arah perjalanan negeri kita.

     Usaha-usaha penyeragaman, pada kondisi dan tahap tertentu, patut dimaknai sebagai sebuah usaha penyederhanaan objek kendali. Apalagi jika hal tersebut berkaitan dengan agenda kekuasaan. Rakyat harus dididik dan diberdayakan untuk merespon setiap masalah sebagai seorang individu. Rakyat harus mandiri di segala bidang. Dengan demikian, keragaman akan menjadi daya gerak di bidang ekonomi dan sosial masyarakat. Perbedaan selalu merangsang gerak alir dan dinamika, seperti air dan angin yang selalu bergerak mencari titik-titik keseimbangannya. Dinamika dan gerak adalah pertanda utama sebuah kehidupan. Keragaman adalah tenaga yang menggerakkan nafas kemanusiaan.


Thursday, June 4, 2015

>>>JARAK ZAMAN

img.  70 tahun perjalanan
     Tujuh puluh tahun berlalu, cita-cita para pejuang dan pendiri negeri belum juga membuahkan hasil nyata. Jurang si kaya dan si miskin nyatanya masih tetap jauh. Penerobosan lahan adat, perusakan lingkungan oleh aktifitas pertambangan, pemusatan modal pada daerah dan kalangan tertentu, komersialisasi pendidikan, kepincangan hukum, korupsi dan penyimpangan kekuasaan serta berbagai masalah lain masih terus menjadi momok bagi cita-cita itu.

     Sementara peralihan generasi telah berkali-kali terjadi, tetap saja perubahan yang diharapkan belum nampak di depan mata. Seakan-akan pada setiap pergantian kekuasaan serta peralihan generasi seluruh urusan harus dimulai lagi dari awal. Maju dan mundur, naik turun tangga, belok kiri belok kanan, bongkar pasang, tarik dorong, mangangkat lalu menghempaskan.

     Lantas, berapa waktu lagi para leluhur kita harus menunggu buah dari hasil perjuangan dan pengorbanan mereka? Apakah 70 tahun masih belum cukup? Masihkah jarak zaman itu terasa dekat? ( Therlaluh....!! )


Wednesday, June 3, 2015

>>>PERAN PEMUDA

     Bung Karno hanya memerlukan 10 pemuda untuk mengguncang dunia. Begitu besar peran dan pengaruh seorang pemuda dalam pandangan beliau. Tapi, pemuda seperti apa yang dimaksud oleh Bung Karno? Bagaimana jika 10 pemuda tersebut ternyata hanyalah seorang pemuda galau, sensitif, manja, play boy dan hanya sibuk dengan urusan batu akik? Masih sanggupkah mereka mengguncang dunia? 

     Tentu saja kriteria pemuda tadi bukanlah tipe pemuda yang dimaksud Bung Karno. Mereka haruslah seseorang yang berkarakter kuat, bermental baja, cerdas, berilmu, paham ajaran agama serta mengerti sejarah dan tujuan perjuangan bangsanya. Pemuda ini sadar akan pentingnya peranan sebuah ideologi bagi dinamika kehidupan sebuah bangsa. Ideologi adalah platform, dasar negara, akar seluruh nilai dan norma kehidupan berbangsa dan bernegara. 
img.  Pemuda aktif dan dinamis
     Pancasila adalah ideologi NKRI. Seorang pemuda tanpa pengetahuan dan pemahaman dasar tentang nilai-nilai Pancasila, mustahil akan mampu memberi kontribusi penting/berharga bagi bangsa Indonesia. Mereka bahkan akan dengan mudah dimanfaatkan oleh pihak asing untuk menghancurkan negerinya sendiri. Iming-iming harta, kuasa dan nafsu syahwat adalah godaan tipikal bagi siapapun. Dan ketika benteng ideologi seseorang tidak cukup memadai, di saat itulah sebuah prestasi dan kehebatan hanya akan menjadi senjata makan tuan bagi pelaku dan orang di sekitarnya.

     Tragisnya, di tengah bombardir informasi dan penetrasi budaya serta ideologi miskin nilai dari luar, para pemuda kita malah disibukkan dengan urusan dan kegiatan sia-sia. Tawuran antar pelajar dan mahasiswa, demo pesanan, pesta narkoba, pergaulan bebas, aborsi, hedonisme para selebritis dan lain-lain, menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi para orangtua dan pemimpin negeri.

     Sayang sekali, media massa malah mengambil untung dari hiruk-pikuk dan desas-desus tak jelas tentang perilaku selebritis yang rata-rata berusia muda ini. Program gosip murahan sangat digemari. Dan, bukannya mendidik mereka untuk lebih memikirkan negerinya, media massa menganggap kegemaran bergosip sebagai pasar bagi produk siaran bertema serupa. Para pengamat pun larut dan terjebak dalam debat kusir. Politikus vokal dan kontroversial menjadi idola pemberitaan. Peran media sebagai sarana mencerdaskan kehidupan berbangsa berada di titik nadir. Untung saja media sosial dan konten digital di situs internet mampu menjadi alternatif informasi bagi mereka yang ingin lepas dari kacamata kuda pemberitaan media-media main stream.

     Bernegara dan berbangsa adalah tentang mempersiapkan sebuah generasi penerus. Saat para orangtua gagal membina, mendidik dan menjaga anak-anak mereka, maka kehancuran dan keterpurukan bangsa hanya tinggal menunggu waktu. Jika ingin melihat akan seperti apa sebuah negeri di masa depan, lihatlah seperti apa generasi muda mereka saat ini. Sudah waktunya untuk berbenah..!!


Tuesday, June 2, 2015

>>>BULAN BUNG KARNO

     Juni adalah bulan istimewa dalam sejarah seorang Bung Karno. Dalam bulan ini beliau lahir (1901), memperkenalkan Pancasila untuk pertama kalinya (1945) hingga wafat di sepertiga akhir Juni tahun 1970. Ketiga peristiwa bersejarah ini menjadi tonggak paling penting di antara sekian banyak hal dalam kaitannya dengan sejarah kemerdekaan RI. 

     Untuk seorang Sukarnois, bulan Juni bisa diidentikkan sebagai bulan Ramadhan bagi kaum Muslim. Bulan introspeksi segala hal yang telah berjalan setahun ke belakang. Sebuah momentum memperbaiki diri, mengukur hasil yang telah dicapai serta mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi tantangan apapun setahun ke depan.
img. Sedang apa Garudaku?
     Tujuh puluh tahun pidato Bung Karno tentang dasar negara kita, Pancasila, memunculkan pertanyaan bagi generasi muda saat ini. Dalam rentang waktu tersebut, masihkah Pancasila sebagai dasar negara dipahami dengan jelas oleh generasi ke-4 bangsa ini? Atau malah semakin luntur tergerus oleh roda zaman. Sang Garuda mungkin mulai terlihat lesu dan malas untuk mengangkasa. Kaki-kakinya terikat rantai masalah yang tak kunjung usai. Paruhnya tak tajam lagi, tatapannya kosong penuh keputusasaan. Mampukah generasi muda mengemban amanat dan cita-cita Bung Karno, tujuan berbangsa dan bernegara kita, mencapai masyarakat adil dan makmur?

     Jika saja sejarah tak dikotori oleh ampas-ampas kekuasaan, mungkin rentang waktu 70 tahun tergolong cukup lama bagi sebuah bangsa untuk meraih impian generasi para pendahulunya. Andai bunuh diri bangsa 1965 tak pernah terjadi, andai persatuan dan gotong-royong masih lekat dalam sanubari, andai kita sebagai bangsa tak berjalan mundur, seharusnya dua generasi setelah kemerdekaan 1945 kita sudah mampu melihat bahwa tanda-tanda masyarakat adil dan makmur itu telah mulai terlihat dengan jelas. Jepang sebagai bangsa kalah perang dengan sumber daya yang hancur di tahun yang sama hanya butuh 30 tahun untuk bangkit dari keterpurukan.

     Apakah kita sebagai bangsa tak pernah membaca sejarah? Atau mungkin saja kita telah membaca sejarah yang keliru dan kemudian menjadikannya sebagai pedoman? Mampukah generasi muda saat ini membersihkan noda sejarah itu? Atau, jangan-jangan kita memang dengan sengaja telah lalai dan memilih untuk melupakan sejarah? Sesuatu yang sudah diwanti-wanti Bung Karno sejak lama. "Jangan sekali-kali melupakan sejarah..!" 

Jika Juni tahun depan sikap kita masih seperti sekarang,
entah apa reaksi para leluhur bangsa ini.

Sadarlah pemudaku, bagkitlah bangsaku...!!


Monday, June 1, 2015

>>>NEGERI PARA PENULIS

     Indonesia merupakan salah satu dari sedikit negeri yang didirikan dan dipimpin langsung oleh para penulis. Bung Karno dan Hatta merupakan dua sosok penulis hebat di masanya. Diawali oleh tulisan-tulisan provokatif Tan Malaka, para cendekiawan nusantara saling sapa melalui tulisan-tulisan mereka dalam bentuk brosur dan buletin sederhana. Maklum, teknologi percetakan kala itu masih amat sangat sederhana. Hanya semangat dan impian untuk sebuah negara Indonesia merdekalah para penulis independen itu terus berusaha menulis dan menuangkan ide-ide kebangsaan mereka.

     Di akar rumput, para pejuang kemerdekaan dilanda rasa haus luar biasa terhadap ide, gagasan serta semangat kebangsaan dari para pemikir dan konseptor negara. Tulisan-tulisan Tan Malaka, Sukarno, Hatta dan pendiri bangsa lain terus "meracuni" pikiran para pemuda pejuang, terutama di tanah Jawa yang relatif mudah dijangkau oleh jalur transportasi masa itu.
img. Sukarno - Hatta
     Kemerdekaan Indonesia bukanlah sebuah hal yang terjadi dalam semalam. Ia telah lebih dulu disemai dalam pikiran dan hati para pejuang kemerdekaan. Mereka harus sadar akan pentingnya kemerdekaan untuk mengubah nasib rakyat. Rakyat terjajah yang justru menjadi kuli di negeri mereka sendiri. Tulisan menjadi sarana efektif untuk memupuk semangat berjuang menuju mimpi kemerdekaan. Dan, semua itu mereka lakukan bukannya tanpa resiko. Penjara adalah pelengkap perjalanan para anak muda pemimpi dalam usahanya mendirikan sebuah negara Indonesia merdeka.

     Penjara dan pengasingan mereka jalani tanpa sedikitpun rasa takut dan penyesalan. Nilai-nilai Pancasila bahkan meresap ke pikiran Bung Karno saat masih menjalani pengasingan di Ende. Meskipun falsafah nilai tersebut belum tersurat dalam susunan kata dan kalimat yang tegas.

     Pancasila bukanlah konsep dangkal dan asal-asalan. Berawal dari pidato tanpa teks Bung Karno pada forum BPUPKI 1 Juni 1945, para pemikir dan konseptor negara akhirnya berhasil menyusun naskah final Pancasila. Dua bulan kemudian, 17 agustus 1945 ditakdirkan menjadi hari kemerdekaan bangsa ini. Proklamasi dibacakan dengan hikmat oleh dua orang penulis ulung, Sukarno - Hatta.