Kecerdasan bukanlah keahlian mengemas persepsi tapi keterampilan mengasah nalar. Jati diri manusia ada pada nalar dan pola pikir, bukan pada persepsi orang luar terhadap pribadi seseorang. Mencerdaskan kehidupan bangsa berarti membekali anak bangsa dengan kemampuan nalar dan daya pilah yang tajam terhadap segala informasi yang membanjiri panca indera manusia.
Seperti halnya makanan dan minuman, maka nutrisi otak berupa informasi yang masuk ke dalam pikiran pada era masyarakat cyber saat ini, juga harus dipilah dengan cermat. Jika seluruh informasi masuk tanpa filter yang baik maka kepala anak bangsa akan dipenuhi sampah-sampah beraroma busuk menyengat. Lihatlah segelintir politikus tanah air yang tanpa malu memamerkan sampah-sampah pikiran secara mencolok hanya untuk sejumlah imbalan ke dalam kantong gendutnya. Segelintir media pun menyorot mereka bak pahlawan pembela kebenaran.
Bangsa yang cerdas tak mungkin akan membiarkan dirinya terus menerus dibodohi selama 70 tahun. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang membekali rakyatnya dengan pisau hati dan belati pikiran. Ia harus mampu menyadari dan mencerna segala situasi dan informasi di setiap denyut kehidupan rakyatnya. Bukan malah terombang-ambing oleh arus dan gelombang informasi yang tiada henti.
Manusia adalah makhluk paling sempurna. Hanya iblis yang tak setuju dan menyangkal kesempurnaannya. Sang Pencipta kemudian mendapat manfaat dari pembangkangan ini. Manusia sendirilah yang harus membuktikan bahwa ia memang layak menyandang predikat sebagai makhluk sempurna. Bumi adalah amanat baginya untuk didiami dan dirawat.
Kesempurnaan manusia akan nampak dari berhasil tidaknya mereka mengelola dan merawat Bumi yang diamanatkan padanya. Sebuah kitab petunjuk disertakan pada manusia agar lebih mudah menjalankan tugas itu. Kitab berat dan padat ini telah ditolak oleh gunung. Lebih baik mereka hancur berkeping-keping daripada harus menerima beban berat kitab itu.
Bumi adalah planet sensitif. Perubahan sekecil apapun akan membawa dampak luar biasa bagi kehidupan manusia. Kenaikan suhu global beberapa derajat saja akan mencairkan benua es di kutub dan membuat permukaan laut lebih tinggi dari biasanya. Itu berarti permukaan bumi yang tertutup air semakin luas pula. Penguapan akan meningkat sehingga peluang hujan dan badai juga bertambah sering. Kenyamanan penghuni bumi tentu menurun dengan berbagai perubahan tersebut. Bumi sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta. Tugas manusialah untuk menjaga keseimbangan itu.
Hewan hanya mengenal makan, sex dan perang. Sedangkan manusia dilengkapi dengan empati. Manusia bukanlah sesuatu yang masuk dalam siklus rantai makanan. Maka, ia sebenarnya tak perlu membunuh sesama untuk makan.
Manusia hanya perlu berbagi. Keserakahan akan memicu nafsu berperang, sebab hak manusia lain terampas. Berperang, sekali lagi bukanlah ciri manusia berbudaya. Manusia ditugaskan untuk mencipta dan menopang kehidupan. Bukan untuk merusak dan menghancurkan.
Perang selalu dapat dicegah dengan kesediaan berbagi. Mengurangi sebagian untuk menambah yang lain. Mundur sedikit kemudian menggapai kawan sejalan. Mengambil sesuatu agar bisa memberi pada orang lain. Menangkap namun melepas di saat bersamaan. Bukan malah menyimpan atau menyembunyikan hak saudaranya.
Manusia adalah makhluk sosial. Kemampuannya bersosialisasi dengan beragam manusia lain sangat jauh di atas hewan manapun. Namun, manusia seringkali berperilaku di luar jati diri kemanusiaan itu sendiri. Ia lebih mengikuti nafsu kehewanan dalam dirinya. Pikir dan Rasa dalam diri manusia telah memudar. Padahal, manusia hanya perlu menjadi diri sendiri, menjadi manusia sejati, menjadi makhluk kreatif yang menopang kehidupan.
Revolusi industri adalah sebuah awal ketika kita menukar harga manusia dengan nilai sebuah produk. Kapitalisme adalah sebuah pandangan materialistik yang menilai sebuah benda hanya dari sisi ekonominya belaka. Pandangan ini mendapat reaksi berlawanan dari kaum sosialis yang lebih mengutamakan manfaat sosial dari setiap produk industri namun meniadakan ciri individual para pelaku ekonomi serta faktor eksternal dari luar manusia (Tuhan). Pancasila dalam sila kedua merupakan momen keseimbangan dari kedua faham tersebut.
Kemanusiaan yang adil dan beradab. Humanity, sebuah kata yang menyiratkan nilai manusia di atas seluruh benda dan makhluk apapun di muka bumi. Tuhan sendiri mengungkapkan bahwa manusia adalah sosok ciptaan paling sempurna. Keadilan adalah ukuran obyektif untuk menilai sebuah hakikat kemanusiaan. Sedangkan adab adalah cara mulia dalam pengelolaan hubungan antar manusia maupun dengan alam sekitar.
Slogan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari modal sekecil-kecilnya adalah jebakan bijak kaum kapitalis. Hubungan antar manusia akan selalu diukur pada seberapa besar potensi seseorang bagi keuntungan finansial mereka. Nilai manusia setara dengan nilai mata uang. Artinya manusia lain tidak lebih mulia dari nilai sebuah mata uang. Kaum sosialis berusaha menempatkan manusia pada derajat yang lebih mulia. Sayangnya, kolektivisme yang dirangkul mengurangi atau bahkan meniadakan watak individu setiap manusia. Satu-satunya persamaan kedua faham di atas adalah keduanya melepaskan urusan Tuhan dari seluruh bidang kehidupan manusia. Tuhan adalah urusan yang berbeda. Kaum sosialis bahkan cenderung meniadakan eksistensi ketuhanan dalam pandangan mereka.
Manusia Pancasila yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa adalah sebuah sosok manusia paripurna. Sosok integral yang menjadikan ketuhanan sebagai inspirasi bagaimana seorang manusia berperilaku terhadap sesamanya. Ketika revolusi industri ternyata merupakan awal ketidakstabilan bumi dan penghuninya, kemudian kaum sosialis tak juga berhasil mengangkat derajat kemanusiaan, maka saatnya sebuah revolusi pola pikir umat manusia diformulasikan guna menutupi kekurangan-kekurangan yang ada.
Sudah saatnya manusia kembali mempertanyakan eksistensinya, untuk apa mereka diciptakan oleh Sang Khalik. Tak lain adalah untuk menjadi khalifah di Bumi. Manusia, terlepas di manapun dia dilahirkan, diberi tanggungjawab mengelola dan memelihara bumi dengan cara-cara yang adil dan beradab. Industri hanyalah mesin, manusia sendirilah yang harus mengendalikan arah dan perkembangannya. Otak manusia harus dibimbing oleh sebuah kesadaran bahwa segala tindakannya haruslah membawa manfaat bagi manusia maupun bumi secara global. Ia tak boleh parsial dan geosentris. Bumi adalah satu kesatuan yang utuh. Di bagian manapun manusia membuat kerusakan, itu seharusnya berarti kerusakan pula bagi semuanya.
Agama dan Iptek, keduanya adalah anak cucu kebenaran. Keduanya juga merupakan sumber kemanfaatan. Agama adalah motivasi, niat dan sumber kebenaran. Sedangkan Iptek adalah hasil akhir dan ujung dari pengolahan kebenaran.
Agama harus selalu bertanya tentang manfaat apa yang ia hasilkan bagi kemanusiaan. Di pihak lain, Iptek tetap perlu mencari sumber dari seluruh kebenaran-kebenaran yang mereka olah. Hanya dengan cara itu agama tak akan menyimpang dari kebenaran dan ilmu pengetahuan terhindar dari kerusakan dan perusakan.
Para ilmuwan memerlukan para ahli agama agar ia tahu asal-usulnya. Agama memerlukan orang-orang berilmu agar kemanfaatannya bertambah. Agama mengandal-kan kejujuran sedang iptek mempersenjatai dirinya dengan kepastian. Kejujuran dalam agama sangat relefan dengan kepastian dalam ilmu pengetahuan. Kebohongan orang beragama adalah sebuah ketidakpastian dalam ilmu pengetahuan.