Fasisme adalah faham kasta dominan berdasarkan ras tertentu. Parahnya, saat ia terus berkembang tanpa kendali faham ini akhirnya menjema sebagai Tuhan atas ras lain sehingga merasa berhak untuk mengatur bahkan memusnahkan seluruh ras asing yang ada.
Membanggakan sesuatu yang kita tak punya upaya apapun untuk memperolehnya adalah sama dengan hujan membanggakan kehebatannya melompat dari ketinggian awan menuju permukaan bumi. Tak ada nilai lebih ataupun prestasi hebat di dalamnya. Seseorang lahir ke dunia tentu saja tak melalui proses memilih dan menentukan di negeri mana dan dari rahim siapa ia dilahirkan. Seseorang sah-sah saja merasa bangga kepada asal-usul dan garis keturunannya. Namun, meremehkan orang lain dari keturunan berbeda bukanlah sebuah sikap ksatria dan tak pantas pula disebut sebagai sikap orang terhormat.
Sebuah penghargaan dan lencana hanya patut disematkan pada upaya-upaya luar biasa dari seseorang untuk mencapai hal tertinggi yang ingin dicapai, jika segala daya upaya, pikiran, waktu dan tenaga telah dikerahkan semaksimal mungkin. Ketika sebuah batas dicapai maka ia akan segera menjadi acuan untuk batas prestasi berikutnya.
Sesuatu yang tak jelas cenderung tak menarik. Ia bahkan akan selalu luput dari perhatian. Berbeda dengan publik figur, rakyat tak jelas dianggap tak mewakili siapa-siapa. Suara "rakyat tak jelas" bukanlah sesuatu yang penting dan perlu ditanggapi.
Memberi label "rakyat tak jelas" kepada masyarakat dan penggiat anti korupsi memberi pesan bahwa mereka tak perlu ditanggapi, mereka tak mewakili siapa-siapa. Bahkan mungkin mereka bisa saja bukan warga NKRI. Yang perlu didengar hanyalah suara-suara pejabat, politikus, ahli hukum, tokoh agama atau kalau perlu tokoh semu yang berperan sebagai aktor sinetron dalam kehidupan nyata.
Indonesia adalah negara kerakyatan. Tak sepantasnya sekelompok elit berperan sebagai pemerah susu bagi penderitaan rakyatnya sendiri. Para koruptor adalah sekelompok orang terdidik yang menguasai elit pemerintahan dan pada saat bersamaan membodohi rakyatnya sendiri. Mereka merpermainkan dan memperdagangkan suara rakyat.
Celakanya, sekelompok masyarakat menikmati perlindungan atas kebodohan mereka. Perasaan aman dan terlindungi justru mereka dapatkan dari para koruptor berhati mulia. Mereka itulah "komunitas rakyat JELAS", jelas-jelas dibodohi oleh kekuasaan sesat dan berwawasan sempit. Mereka rela menjual negara untuk kepentingan diri dan kelompok tanpa sedikitpun rasa bersalah.
Dan, jika kita harus memilih, maka atas nama para pendiri bangsa dan pahlawan serta pejuang kemerdekaan, dengan hati tulus ikhlas menjadi bagian dari komunitas rakyat tak jelas merupakan keputusan patriotik dan mulia . Komunitas rakyat tak jelas namun dengan jiwa dan semangat yang benar-benar jelas, untuk kemajuan dan kemakmuran bangsanya.
Pada
akhirnya, jumlah dan skala itulah yang menentukan. Pertambahan banyak
(bilangan) menghasilkan perubahan sifat (Tan Malaka). Kolektivisme merubah
watak, kebersamaan dalam jumlah banyak mampu membuat perubahan. Itulah inti
sebuah gerakan revolusi.
Kolektivisme
dalam olah raga bisa ditafsirkan sebagai kerjasama tim. Sepak bola contohnya,
sebagai bentuk olah raga tim maka kekompakan dan kebersamaan para pemain akan
sangat menentukan hasil akhir sebuah pertandingan. Tim dengan sikap kolektif
cenderung akan selalu memenangkan pertandingan dibanding tim yang hanya mengandalkan
satu dua orang pemain. Tentu saja, sebab jika satu atau dua pemain ini mendapat
kawalan ketat dari tim lawan maka permainan tim secara keseluruhan menjadi
tidak berkembang.
Revolusi
mental hanya akan terwujud jika diaplikasikan oleh massa yang masif dan solid.
Air hanya mampu mengapungkan kapal saat ia berwujud lautan. Kerapatan partikel
air serta kedalaman laut menentukan soliditas serta daya angkat (tekanannya).
Pergerakan
kita haruslah berupa pergerakan rakyat (Bung Hatta). Jangan memimpikan dan
meletakkan sebuah harapan hanya kepada seorang pemimpin. Individu sangat rapuh
dan mudah dimanipulasi. Kekuatan kemanusiaan terletak pada jumlah dan
keragaman umat manusia itu sendiri. Penyeragaman bisa dianggap
sebagai sebuah bentuk perlemahan kemanusiaan. Kodrat seluruh species adalah “berbeda”.
Tak ada dua mahluk hidup yang betul-betul sama, bahkan jika ia adalah hasil sebuah
proses kloning sekalipun. Mereka semua hanya diikat oleh sebuah persamaan, yaitu
sebagai makhluk, hasil kreasi Sang Maha Pencipta.
Dalam
kasus berbeda, sejumlah benda yang sama bisa dikategorikan sebagai satu objek.
Ketika sejumlah massa terpolarisasi kepada dua kutub ekstrim, maka dengan
sendirinya mereka telah membentuk diri menjadi dua objek masif berbeda karakter.
Ketika hal ini terjadi, maka sebuah niat buruk sudah cukup untuk membenturkan
keduanya.
Warkop Rasidemok cukup lengang di hari Senin ini. Para karyawan dan pekerja kantoran masih sibuk oleh tumpukan pekerjaan minggu sebelumnya. Namun Bang Tiyo dan Mas Burjo yang berprofesi sebagai pengamat freelance, dengan tugas mengamati para pengamat di berbagai bidang, telah duduk manis di atas kursi kebesaran masing-masing. Setelah puas membeberkan hasil pengamatan mereka berdua, mas Burjo mulai melemparkan tebakannya.
Mas Burjo : "Hebat mana gajah ama semut?"
Bang Tiyo : "Ya, jelas gajahlah..! Gajah itu kuat, bisa ngangkat beban berat. Juga kendaraan hebat saat perang"
Mas Burjo : "Jangan salah, walaupun besar dan kuat, dalam era senjata moderen saat ini justru semutlah yang terhebat..!"
Bang Tiyo : "Lho, kok..??" sergahnya tak terima argumen dari Sang Kolega.
Mas Burjo : "Ingat pepatah, gajah di seberang lautan terlihat jelas namun semut di pelupuk mata malah tak nampak. Hebatkan semutnya..??" Senyum kemenangan tersungging manis di wajah culun itu.
Dengan nada emosi yang siap meledak Bang Tiyo terus berupaya menyanggah jawaban Mas Burjo. Setelah meneguk kopinya beberapa kali sambil menunggu senyum licik itu reda, Bang Tiyo mulai melontarkan serangannya..
Bang Tiyo : "Ngga bisa, itu pepatah kuno. Sudah tidak up to date..!! revisi terbarunya berbunyi, 'gajah di seberang lautan jelas terlihat, semut di pelupuk mata bikin kelilipan'. Lagi pula sekarang kan sudah eranya skype dan web camera..!!"
Kali ini Bang Tiyo tak memberi kesempatan pada Mas Burjo untuk mendebat. Dengan rasa emosi yang menggelora, Bang Tiyo menuntaskan serangannya.
Bang Tiyo : "Dalam jaman internet sekarang ini maka pepatah itu berbunyi, 'Semut di seberang lautan jelas terlihat, anak gajah di depan mata kagak kelihatan'. Jangan protes dulu..!! Si anak gajah ngumpet dalam kardus..! web cam pasti nggak bisa tembus." Wajahnya berbalik ramah penuh senyum kemenangan.
Di tengah suasana yang memanas, tiba-tiba Sang Guru Bijak datang menemui murid-murid teladannya. Sambil pura-pura tak mendengarkan perdebatan tadi Om Pitok menarik kursi di sisi netral.
Om Pitok: "Gerah banget pagi ini, padahal hujan baru saja reda.." Sindirnya.
Mas Burjo dan Bang Tiyo terdiam, keduanya menyapa Sang Guru. Perdebatan soal semut dan gajah berakhir begitu saja. Mereka lebih tertarik membahas tebakan Om Pitok, hebat mana koruptor atau KPK..?
Entah ke mana om Pitok pagi ini. Hanya terlihat tiga anggota Geng Kenthir sedang asyik berbincang ditemani masing-masing segelas kopi di depan mereka. Warkop RASIDEMOK penuh sesak oleh pengunjung. Mereka ramai membicarakan hasil pertandingan bola dini hari tadi.
Bung Wani Piro : "Aneh..! mengapa banyak orang menggemari permainan goblok ini ya..?"
Sinisme bung satu ini kumat lagi. Mas Burjo dan Bang Tiyo saling berpandangan.
Mas Burjo : "Husss... jangan keras-keras, sampeyan mau digebukin rame-rame..??"
Bang Tiyo : "Iya nih, pagi-pagi udah goblok-goblokin orang. Memang kenapa kok main bola itu dibilang goblok..?"
Bung WP : "Ya ialah, jelas ini adalah hoby paling aneh. Udah cape-cape ngejar bola, e eh.. begitu dapet malah ditendang lagi... Dasar kurang kerjaan..!!"
Duo Kenthir : "Ha ha ha ha...!!"
Bang Tiyo : "Tapi masih ada hobby yang paling aneh..!!"
Mas Burjo : "Apa itu..??"
Bang Tiyo : "Mendaki gunung..!! Coba kalian pikir.. orang-orang itu menenteng ransel berat, cape-cape menaiki tanjakan untuk sampai ke puncak. E eehh..., begitu nyampe besoknya malah turun lagi...!"
Duo Kenthir: "ha ha ha ha....!!"
Mas Burjo : "Ngomong-ngomong, hobby Bung WP apaan..??"
Bung WP diam sejenak. Dua rekannya menunggu jawaban dengan sedikit rasa heran. Rupanya, orang-orang di sekitar meja mereka diam-diam ikutan nguping pembicaraan tadi.
Bung WP : "Ssssttt.... jangan bilang-bilang. Hobby saya..., korupsi..! Ini adalah hobby sekaligus lahan penghasilan paling oke di negeri ini. Sekali berhasil, pasti akan ketagihan...!"
Duo Kenthir: "Haaa..??!!"
Tanpa sengaja Mas Burjo dan Bang Tiyo berteriak keheranan. Mereka berdua kaget bukan kepalang. Para pengunjung berpaling ke arah mereka. Keduanya terdiam dan hanya bisa membayangkan Bung WP terlihat ganteng dalam seragam tahanan KPK-nya.