Blogger Tricks

Friday, December 6, 2013

>>>SENJATA PENAKLUK

img01. Pohon Nuklir
     Seberapa besarkah kekuatan senjata nuklir? Jawabannya, tak lebih kuat dari tekanan sebuah tombol. Pedang pun tak lebih hebat daripada pena seorang penulis. Lalu senjata apakah yang paling dahsyat di permukaan bumi ini...? Mungkin kedengaran aneh kalau jawabannya adalah pikiran.
     Pikiran mengendalikan seluruh perilaku manusia. Pikiran pula yang membedakannya dari bangsa hewan. Manusia adalah hewan yang berpikir. Dan ketika manusia berhenti atau lupa berpikir, maka secara ilmiah ia hanyalah seekor hewan berwujud manusia. Namun, sehebat-hebatnya hewan terpandai ia takkan mampu menciptakan senjata pemusnah massal mengerikan. Seganas-ganasnya hewan pemangsa, mereka tak sampai memangsa lebih banyak dari kapasitas perut mereka. Sedangkan manusia lebih dari mampu untuk melakukannya. 
     Selain pikiran, dalam mengambil sebuah keputusan manusia juga dilengkapi dengan rasa atau insting. Insting manusia jauh berbeda dengan insting hewani. Namun demikian insting hewani masih tetap terpatri kuat dalam watak dasar manusia. Pikiran manusialah yang mengasah insting hewani tersebut menjadi insting yang lebih cerdas. Insting yang seharusnya lebih mempertegas eksistensi kemanusiaan seorang manusia.
     Dalam kaitan ini, Bung Karno mempertentangkan kekuatan bom atom sekutu dengan kehebatan cita rasa seni bangsa Indonesia. Bung Karno jauh memandang dan menilai sosok di belakang peluncuran bom atom dan sosok manusia pelaku seni dalam diri bangsanya. Bom atom hanyalah benda mati tanpa daya. Manusia penggunanyalah yang bertanggungjawab atas kerusakan yang terjadi. Manusia dengan insting hewani.
img02. War and Peace
     Bung Karno hanya membedakan antara sosok manusia perusak dan sosok manusia penopang. Seni adalah sebuah kekuatan penopang. Seni menopang hakikat keberadaan manusia di muka bumi. Seni memanusiakan manusia. Seni adalah senjata penakluk yang mampu menghentikan kehendak berperang dan saling menghancurkan dari insting hewani manusia. Seni menyehatkan pikiran dan menyegarkan rasa para penikmatnya. Terlebih penting lagi seni hanya bisa dinikmati dan dirasakan oleh makhluk bernama manusia. 


Friday, November 29, 2013

>>>GENERASI YANG HILANG (3)

Generasi yang hilang - 1  |  Generasi yang hilang - 2
     Dari pemaparan sebelumnya dapat kita temukan adanya sebuah “Lost Generation”, yaitu generasi yang seharusnya tampil ke panggung sejarah di sekitar tahun 1987. Kalau berpatokan pada usia Bung Karno saat membacakan proklamasi 1945 dalam usia 44 tahun, maka bisa ditafsirkan para pemuda yang seharusnya tampil ke panggung sejarah di tahun 1987 adalah mereka yang pada saat terjadi pembantaian massal akhir tahun 1960-an masih berusia 21 sampai 23-an tahun.
img01. Generasi Penerus
     Dapat terlihat sebuah alasan mengapa proses regenerasi tidak terjadi di sekitar tahun 1987. Para pemuda yang seharusnya menjadi tonggak penerus bangsa telah dimusnahkan dengan tuduhan sepihak dan dieksekusi tanpa melalui proses peradilan yang manusiawi. Sebahagian lainnya terjangkit depresi dan trauma mendalam akibat terlibat atau menyaksikan langsung proses pembantaian tersebut.
     Dengan asumsi tuduhan bahwa sekelompok orang telah membunuh para jenderal maka seluruh simpatisan dan anggota partai tertentu bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut adalah sebuah logika yang dalam agama apapun tidak akan bisa diterima. Terlebih lagi cerita-cerita di balik peristiwa Gestapu 1965 mengandung banyak kejanggalan sejarah, sehingga tuduhan akan adanya sebuah konspirasi menjadi masuk akal.
     Generasi yang hilang tersebut bisa juga terdiri dari para pelajar yang dikirim ke luar negeri oleh Bung Karno dalam usaha beliau melakukan transfer teknologi untuk industri perkapalan dan penerbangan serta industri-industri strategis lainnya. Para pelajar tersebut terjebak di luar negeri karena kondisi politik dalam negeri kita yang berantakan. Bahkan mereka akhirnya memutuskan untuk menetap di luar negeri untuk alasan yang bermacam-macam. Kemungkinan saat ini beberapa di antara mereka tergabung dalam Diaspora Indonesia, sebuah komunitas anak bangsa yang menetap di luar negeri.
     Para pemuda tunas bangsa di sekitar tahun 1965-1967 harus rela kehilangan momentum kebangsaan mereka oleh sebuah kekuatan eksternal namun menggunakan organ-organ internal bangsa mereka sendiri. Lalu berharap anak cucu merekalah nanti yang akan merebut kembali momentum tersebut. Sebuah momentum yang akhirnya terjadi di tahun 1998.
  

Friday, November 22, 2013

>>>GENERASI YANG HILANG (2)

img01. Peristiwa 17 Agustus 1945
     Dengan berpatokan pada peristiwa Proklamasi Kemerdekaan 1945 dapat dilacak momentum antar generasi berikutnya yaitu di sekitar peristiwa Gestapu 1965. Peristiwa Gestapu terjadi 20 tahun setelah proklamasi dikumandangkan. Sedangkan peristiwa penting setahun berikut adalah diterbitkannya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966 yang berkisar  21 tahun sejak momentum bersejarah sebelumnya.
     Secara de facto pemerintahan Bung Karno telah tamat saat beliau menandatangani Surat Perintah yang kemudian disalahgunakan tersebut. Kudeta merangkak yang menyusul peristiwa tersebut menandai awal lahirnya Orde Baru. Sebuah era baru yang ditandai dengan pembantaian ratusan ribu rakyat tak berdosa dengan cara biadab tanpa proses pengadilan yang wajar.
img02. Satu setengah Generasi
     Orde Baru juga menjadi era terlama dalam sejarah kekuasaan di Indonesia. 32 tahun adalah usia yang setara dengan satu setengah generasi anak bangsa. 1987 adalah tahun ideal untuk sebuah peralihan generasi, namun hal tersebut tidak terjadi. Sebelas tahun setelah tahun tersebut (1998) barulah sebuah generasi reformis berhasil menumbangkan kekuasaan yang telah jauh melampaui usia generasinya sendiri.
     Dari titik tahun 1998 ini dapat kita perkirakan bahwa momentum peralihan generasi selanjutnya berkisar pada tahun 2019, yakni 21 tahun setelah tumbangnya rezim Orde Baru. Jika tidak ada peristiwa luar biasa yang mendahuluinya maka tahun tersebut merupakan tahun peralihan kekuasaan melalui mekanisme Pemilu terjadwal. Sebab Pemilu sebelumnya akan terjadi segera di tahun 2014 yang akan datang.
     Tahun 2019 adalah tahun kritis sebab merupakan tahun terakhir sebelum memasuki tahun 2020 yang menurut mitos akan ditandai dengan peristiwa luar biasa. Sebuah peristiwa yang disetarakan dengan peristiwa penting di tahun-tahun 1717, 1818 dan 1919 pada abad-abad sebelumnya.
Bersambung.. 


Sunday, November 17, 2013

>>>GENERASI YANG HILANG (1)

     Dengan beberapa alasan subyektif, penulis berpedoman pada asumsi bahwa; skala satu generasi dalam perjalanan sejarah suatu bangsa adalah berusia 21 tahun. Dengan asumsi ini dapat kita ukur berjalan atau tidaknya proses regenerasi dalam sebuah bangsa.
img01. Skala sebuah generasi = 21 tahun
     Dalam sejarah perjuangan bangsa bisa diamati bahwa tahun 1908 adalah awal kebangkitan perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dilanjutkan dengan lahirnya Sumpah Pemuda di tahun 1928. Namun, Kemerdekaan baru bisa diraih saat Perang Dunia II berakhir yang ditandai dengan jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki Jepang pada tahun 1945. Angkatan ’66 menandai proses kudeta terselubung di sepanjang 1965-1967 yang mengakhiri kekuasaan Presiden pertama RI Soekarno.
     Era Orde Baru kemudian berkuasa dan tumbang di tahun 1998 setelah bertahta selama kurang lebih 32 tahun. Sedangkan Era Reformasi yang berjalan setengah hati belum berhasil membawa perubahan berarti hingga penghujung tahun 2013 ini. Era yang pada awalnya memberikan harapan besar bagi terciptanya sebuah masyarakat adil dan makmur dalam negeri tercinta NKRI. Walaupun jika diukur sejak tahun 1998 generasi reformis ini baru akan tuntas di sekitar tahun 2019, maka tentu masih akan menyisakan sebuah asa bagi tercapainya cita-cita bangsa dalam lima atau enam tahun ke depan.
     Era antara Kebangkitan Nasional dan lahirnya Sumpah Pemuda dilalui dalam rentang waktu 20-21 tahun. Menandakan bahwa sebuah proses regenerasi terjadi dalam proses perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan. Terlihat bahwa perjuangan melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti Budi Utomo dan Muhammadiyah telah berhasil menyebarkan ideologi kebangsaan dalam skala luas sehingga berdampak pada lahirnya sebuah generasi penerus perjuangan, generasi yang memprakarsai lahirnya sebuah momentum kebangsaan yaitu Sumpah Pemuda.
     Tujuh belas tahun kemudian sebuah generasi bahkan telah mendesak dikumandangkannya Proklamasi Kemerdekaan RI di sela-sela kevakuman kekuasaan pada akhir Perang Dunia II. Dalam skala sebuah generasi mungkin hal tersebut terlalu dini sebab usianya baru akan matang di sekitar tahun 1948-1949, dua puluh satu tahun sejak peristiwa lahirnya Sumpah Pemuda 1928. Namun jangan lupa, bahwa kemerdekaan sesungguhnya baru kita dapatkan setelah berhasil mengusir sekutu dalam Agresi Militer I dan II.
Bersambung.. 


Friday, November 8, 2013

>>>NYALI


HW01
Untuk Download ukuran 1920x1080 klik di sini
Kutipan dari pembelaan Bung Hatta saat dituduh melakukan kegiatan makar di Den Haag, Belanda. Beliau di penjara beberapa bulan sejak akhir 1927 dengan sangkaan dikhawatirkan melarikan diri. Pembelaan Bung Hatta dan juga tiga orang pengacara setempat akhirnya mampu membebaskan diri Beliau dari ruang tahanan. Nyali seorang pemberani ditunjukkan oleh Bung Hatta yang kukuh berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.