Kebenaran akan menemukan dirinya sendiri. Agama hanyalah cara untuk menemukan kebenaran, ia bukanlah hakikat sebuah kebenaran. Seperti seorang ayah yang memberikan sepatu kepada sang anak untuk dipakai ke sekolah. Bukan sepatu itu yang mengantarkan sang anak menemukan sekolahnya. Sepatu hanyalah alas tempat berpijak. Pikiran dan imanlah yang membawa sang anak pada tujuan hidupnya.
Kebenaran adalah energi alam, kekal dan abadi. Mungkin sesekali ia tersembunyi, namun keberadaannya adalah mutlak dan nyata.
Sementara kejahatan hanyalah kebenaran yang berjalan di gelap malam. Ia akan menampakkan diri saat berjalan di bawah sinar lampu yang bersumber dari terangnya pikiran. Kejahatan adalah bayangan yang tercipta oleh sinaran cahaya kebenaran. Tak akan nampak kejahatan tanpa ia ditunjuk oleh sebuah kebenaran.
Agama di zaman moderen telah berproses menjadi berhala baru. Ia menjadi sembahan, sementara Tuhan hanyalah penonton di SinggasanaNya. Umat beragama saling bunuh sambil menyeru Tuhannya serta menganggap Tuhan harus dibela dan ditolong. Sebuah kekeliruan yang nyata. Manusia-manusia itulah yang butuh bantuan dan pertolongan dari Sang Khalik, bukan sebaliknya.
Manusia mencari kebenaran dengan pancaindranya. Sementara hakikat kebenaran berada di luar pancaindra manusia. Mungkin ia melintas dalam pancaindra, namun ia hanya akan bersemayam dalam jiwa. Pikiran manusialah yang akan menerangi dan kemudian menjemput kebenaran itu.
Bangsa yang terus sibuk bertikai memaksakan sepatu milik masing-masing saja yang paling pantas dipakai berjalan, tak akan pernah sampai pada tujuan kebangsaannya. Saat mereka sampaipun, hal pertama yang mereka lakukan adalah memaksa saudaranya menanggalkan sepatu-sepatu milik mereka.
Mereka pikir telah sampai ke sekolah, tapi bukankah sekolah hanyalah sarana menuntut ilmu? Dan ilmu itu tersimpan dalam pikiran, bukan dalam sepatu.
Penyakit
Amnesia negeri harus segera diberi Obat
dan perilaku aparat wajib dibersihkan dengan Tobat. Negara adalah tentang kehidupan antar generasi. Sebuah
generasi melanjutkan rintisan generasi sebelumnya sambil mempersiapkan bekal
untuk generasi berikutnya.
Negara
yang besar adalah negara yang menghargai jasa para pahlawannya. Berapa banyak
derita, berapa dalam nestapa, betapa tinggi pengorbanan serta berapa banyak
nyawa telah diikhlaskan untuk sebuah cita-cita kemerdekaan. Bangsa yang
terpisah dari pahitnya sejarah perjuangan tak akan mampu dan tak berhak
merasakan manisnya sebuah cita-cita. Hanya mereka yang sadar dan melek sejarahlah
yang berhak untuk mengalami kemakmuran dan kesejahteraan.
Mengapa
bangsa ini masih terus berputar-putar dengan masalahnya sendiri? Mungkin kita
perlu merenungkan dan mengembalikan ingatan kita akan sejarah perjuangan para
pendiri negeri. Satu hal, mungkin sejarah itu telah kita lupakan. Namun ada hal
lain yang juga mungkin terjadi, yaitu sejarah telah dibelokkan dari koridornya
semula. Sejarah telah dimanipulasi untuk kepentingan sempit dan menyesatkan
para penguasa. Sejarah telah dibolak-balikkan, lalu dilengkapi dengan sikap
masa bodoh generasi penerus yang hanya mampu melihat sejauh nafsu dan akal
pendeknya.
Ketika
sebuah masyarakat telah dicemari perilaku individualis, maka jangan lagi
bertanya kemana bangsa ini akan berlabuh. Sebuah perahu dengan layar teronggok,
dayung yang tergolek, kemudi yang kaku, haluan yang bengkok serta penumpang
yang tertidur, sudah pasti akan terombang-ambing oleh gelombang di lautan
kehidupan. Saat satu generasi hanya memikirkan penghidupan generasinya sendiri,
sudah pasti tak akan mampu mengantarkan sebuah sampan harapan menuju indahnya
pantai kesejahteraan dan kemakmuran.
Ketika
sebuah generasi penyelenggara negara hanya mampu mengabdi pada kepentingan diri
dan kelompoknya sendiri, maka demi keutuhan bangsa dan kemajuan negara mereka harus
menetapkan satu pilihan, berobat
atau bertobat.
Sila Persatuan
Indonesia adalah satu-satunya sila saat itu yang diyakini oleh Bung Karno mampu
membawa Indonesia ke arah kemerdekaan hingga masa kejayaannya. Bung Karno telah
lama menyadari bahwa Persatuan Indonesia adalah salah satu dasar tegaknya NKRI.
Hingga malam 1 Juni 1945 beliau bahkan belum bisa memastikan rumusan cikal
bakal keempat sila Pancasila lainnya, dan memohon kepada Sang
Pencipta untuk membantu "memikirkannya". Keberadaan keempat sila
selain sila Persatuan Indonesia (Nasionalisme) tersebut bisa dikatakan adalah
"wahyu" atas permohonan beliau di malam itu.
Persatuan
Indonesia menjadi faktor mutlak menuju Indonesia Raya disadari betul oleh Bung
Karno. Juga memahami bahwa seluruh faham yang masuk ke Indonesia dengan
sendirinya akan mengalami desakralisasi dan melebur
dalam jiwa keterbukaan serta keramahan masyarakat nusantara.Sehingga kebrutalan dan anarkisme faham
tertentu dipastikan akan lenyap dengan sendirinya berganti sikap toleransi serta jiwa kekeluargaan yang menopang persatuan.
Indonesia
adalah bangsa majemuk dan terpisah-pisah secara sosial maupun geografis. Oleh
karenanya, sinergi dari seluruh sumber daya yang ada mutlak diperlukan. Tanpa
sinergi, berbagai kekuatan yang ada justru akan melemahkan satu sama lain.Prinsipnya, Jika tak bisa berkontribusi
untuk persatuan, setidaknya kita tidak mengambil bagian pada perpecahan. Jika
belum mampu berbuat baik, paling tidak berjuanglah untuk tidak melakukan
kejahatan. Jika belum bisa move on, ada baiknya anda standby saja. Sebab mundur
selangkah akan fatal akibatnya saat anda membelakangi jurang. Gugur satu tak
tumbuh lagi jika yang tertinggal hanyalah PERSATUAN itu sendiri.
Sore ini om Pitok dan tiga konconya sedang membahas Demokrasi di warkop
Rasidemok. Terdengar ada tiga jenis demokrasi yang mereka perbincangkan.
Om Pitok : "Demokrasi itu ada 3 macam, masing-masing dengan ujung yang
berbeda."
Si Abang dan mas Burjo: "Apa aja tuh om..? Kita pengen belajar nih.."
keduanya menyahut hampir bersamaan.
Om Pitok: "Demokrasi Murni, Demokrasi Wani Piro dan Demokrasi
Pancasila."
Bung Wani Piro: "Lho.. kok ada nama saya? Emang bedanya apaan? Jadi penasaran..."
Om Pitok: "Demokrasi murni ujungnya Dominasi, Demokrasi Pancasila ujungnya
Toleransi"
Bung Wani Piro: "Lho punya saya..., apa ngga ada ujungnya?" Si Abang
dan mas Burjo cekikikan mendengar pertanyaan Bung Wani Piro.
Om Pitok: "Demokrasi Wani Piro ujungnya Nasi bau Terasi. Mengenyangkan
tapi bau..!!"
Si Abangdan Mas Burjo: "Ha ha ha ha.... sabar ya Bung Wani Piro.. itu
cuma masalah demokrasi. Bukan tentang anda..!!" Si Abang dan Mas Burjo
melanjutkan tawanya tanpa menghiraukan Bung Wani Piro yang tampak kesal.
Om Pitok kemudian menjelaskan mengapa Demokrasi Pancasila adalah jenis demokrasi yang paling cocok buat Tanah Air kita yang sangat majemuk dan heterogen ini.
Sebagai negara maritim ada baiknya Indonesia mengambil falsafah maritim juga dalam tata kelola dan tahapan pembangunannya. Yang paling dekat adalah dengan memperhatikan proses penangkapan ikan tradisional oleh nelayan nusantara dengan menggunakan jaring atau pukat sederhana. Jika kita amati, jaring nelayan tersebut dilengkapi cincin pemberat di beberapa titik terluar jaring mereka.
Proses membangun dengan mekanisme cincin jaring adalah dengan menciptakan sejumlah pusat pertumbuhan ekonomi pada daerah dan wilayah terluar negeri dengan daya pacu yang setara. Tentu saja dengan tetap memperhatikan komoditas dan potensi unggulan daerah setempat. Bisa digambarkan sebagai jaring nelayan dengan beberapa cincin pemberat pada sisi terluar jaring, seperti disebutkan tadi.
Ketika kepala jaring yang berada pada bagian tengah ditarik (mewakili pertumbuhan di pusat pemerintahan) maka cincin jaring dalam air bergerak ke dalam untuk memastikan jaring memberikan hasil tangkapan yang optimal. Tentu hasilnya akan jauh berbeda jika jaring tersebut tidak memiliki cincin pemberat.
Cincin jaring ini bisa dianalogikan; kota terluar sebagai sentra ekonomi dan pusat pertumbuhan mandiri dengan infrastruktur dan sarana penunjang lengkap seperti pasar rakyat berskala besar, kawasan pergudangan, bandara dan pelabuhan kapasitas sedang hingga besar, jalur transportasi dari dan ke pedesaan sampai kepada pemanfaatan teknologi informasi sederhana dalam pengelolaan kotanya.
Kota-kota mandiri tersebut haruslah cukup banyak dan tersebar merata di sekitar garis wilayah terluar nusantara. Semakin banyak jumlahnya maka semakin merata pula hasil pembangunan yang kita dapatkan.