Blogger Tricks

Friday, May 31, 2013

>>>RUH IDEOLOGI PANCASILA

     Pancasila adalah ideologi universal. Bung Karno dalam pidato tanpa teks pada tanggal 1 Juni 1945 telah menjabarkan dengan gamblang falsafah dasar dari ideologi Pancasila. Watak dasar ideologi Pancasila adalah nasionalisme namun nafasnya adalah perikemanusiaan (humanity). Tubuhnya dari bahan lokal namun cahayanya bersifat universal. Sebuah ideologi yang menembus sekat-sekat ciptaan faham fasisme namun menarik diri dari sebuah faham kosmopolitan yang dalam pandangannya  meniadakan eksistensi sebuah bangsa.
     Seperti sebuah irama musik ideologi Pancasila adalah komposisi sempurna yang dapat dinikmati oleh bangsa-bangsa di berbagai belahan penjuru dunia. Nada musiknya begitu mudah untuk dicerna sehingga tanpa sadar telah merasuk ke dalam sukma. Hanya kesombongan dan keangkuhan yang bisa memecah pesonanya. Pancasila adalah ruh NKRI yang bersumber dari cahaya alam semesta. Walaupun ia bersemayam dalam tubuh Indonesia namun auranya melingkupi seluruh bangsa-bangsa di dunia.
     Kemajuan teknologi sekarang ini telah mengaburkan sekat-sekat antar negara. Ideologi Pancasila dengan mudah dapat dipertontonkan ke panggung dunia. Ibarat cahaya lampu di dalam sebuah ruang berdinding kaca, ia tetap berdiri dengan kelokalannya tapi sinarnya bisa dinikmati oleh bangsa-bangsa di sekitarnya. Namun sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul, apakah anak-anak negeri ini telah menyadari keberadaan dari ruh bangsa mereka sendiri...?? “I don’t thinks so..”  Walaupun segelintir pemuda tetap teguh pada idealismenya, masih butuh waktu untuk membuktikan apakah idealisme itu masih bisa bertahan saat ia bersentuhan dengan kehidupan nyata.

>>>PENCARIAN JATI DIRI

     Komposisi geografis Indonesia terdiri dari 75% Lautan dan sisanya adalah Daratan. Kalau dibandingkan dengan komposisi tubuh manusia maka akan terlihat adanya kemiripan, Sekitar tiga perempat pembentuk jasadnya adalah berupa zat cair. Keuntungan dari keadaan tersebut yakni  sebuah karakter dinamis dan aktif yang dimilikinya.
     Sang Pencipta sendiri menempatkan manusia sebagai hasil karyaNya yang paling sempurna. Maka tidakkah kemiripan komposisi itu membuat Indonesia bersyukur dan bangga dengan keadaannya. Ya... dengan tersedianya laut yang luas maka dinamika masyarakat dalam bentuk perdagangan antar pulau menjadi lebih terbuka. Dalam skala lebih luas Indonesia menjadi pasar sekaligus sumber dari aliran perdagangan  barang dan jasa di seluruh dunia.
     Ribuan pulau yang tersebar adalah rangkaian mutiara. Kekayaan laut dan daratannya begitu besar. Budaya dan tradisi yang dimiliki sangat beragam memberi isyarat bahwa sejarah Indonesia masa lampau telah akrab dengan proses akulturasi dari berbagai bangsa di seluruh dunia. Sebelum mengikatkan diri dalam bingkai Negara Indonesia ratusan suku bangsa tadi telah terbentuk dan eksist di wilayahnya masing-masing, sehingga akan membutuhkan energi lebih besar untuk mempertalikan mereka dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di sinilah sebuah Ideologi memegang peranannya.
     Sesungguhnya jati diri Indonesia adalah Pancasila, sebuah ideologi yang unik namun bersifat universal. Fahamnya adalah sosialis, namun ia bukanlah komunis apalagi fasis. Mainstreamnya adalah kesetaraan, duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Mengakui perbedaan dan keragaman namun menjunjung tinggi persatuan. Ibarat organ-organ dalam tubuh manusia dengan bentuk dan fungsi berbeda namun terkoordinasi dengan baik dalam satu irama.

>>>BEKALNYA TOLONG DISIAPIN YAAHH...

“Bekal kami hanya dua, SEJARAH (Merah) dan HARAPAN (Putih). Hanya dengan dua bekal tersebut kami akan berpetualang..”. Ibarat layangan, sejarah adalah tambatan benang yang menjaga agar layangan tidak terbawa angin. Layangan adalah mimpi dan harapan yang digantungkan, dan sepanjang benang itulah kami akan berjalan dengan segala pahit dan getir kehidupan.
img.  Bekal harus disiapkan
     Sejarah adalah siklus peradaban, akan terus berulang walaupun dengan pelaku dan cerita yang berbeda. Wayang dalam kebudayaan Jawa merupakan bahasa sederhana untuk menggambarkan pelaku-pelaku dan cerita dalam sejarah umat manusia. Setiap peradaban akan menampilkan cerita dan aktor-aktornya sendiri. Namun simbol-simbol di dalamnya pada hakekatnya adalah sama. Tarik-menarik, saling mengalahkan, saling mendominasi dan bentuk-bentuk kontradiksi lainnya merupakan bumbu kehidupan yang meletakkan jejak-jejak sejarah dalam setiap peradaban.
     Sejarah Indonesia, pada beberapa penemuan arkeolog terakhir telah membuka kemungkinan-kemungkinan dugaan adanya sebuah peradaban maju peninggalan zaman prasejarah yang jejaknya tertimbun dalam bumi Indonesia. Ada yang menghubungkannya dengan sebutan “Benua Atlantis” yang hilang. Sebuah peradaban maju yang lenyap dalam seketika oleh sebuah bencana maha dahsyat. 
     Namun demikian sejarah tinggallah sejarah, tidak berarti apa-apa tanpa tali yang menghubungkannya ke masa depan. Sebuah harapan akan dunia yang tenteram, stabil dan berkesinambungan akan menjadi satu sisi lain untuk merentangkan benang kehidupan yang berasal dari sejarah-sejarah masa lampau. Indonesia tak luput menjadi salah satu aktor dalam lakon saat ini. Dari sejarahnya yang panjang dan berliku maka sejatinya Indonesia bisa menempatkan diri menjadi Aktor pemeran Utama dalam hikayat yang sedang berlangsung. Jam terbang dalam rentang waktu begitu lama adalah modal utamanya.

>>>MAU KE MANA...??

     Mau ke manakah negeri ini...? Indonesia mempunyai potensi untuk menjadi Negeri Adidaya. Namun hal-hal kecil masih harus dijawab terlebih dulu. Bung Karno berpesan, “Janganlah kita menjadi bangsa kuli atau menjadi kuli di tengah bangsa-bangsa”. Kita masih mengirim para TKW dengan embel-embel “Pahlawan Devisa”. Apapun kata-kata pemanisnya mereka dikirim tak lebih untuk menjadi kuli di negeri orang. Secara tidak sadar kita dengan bangga memberi cap sebagai Bangsa Kuli kepada negeri sendiri di tengah pergaulan bangsa-bangsa.
img.  Mencari arah dan tujuan
     Bangsa kita memiliki modal sangat kuat untuk menjadi salah satu Negara Besar. Selain sumber daya alam yang melimpah sebagai karunia karena letaknya merupakan pertemuan lempeng-lempeng di permukaan bumi, juga oleh adanya sebuah tradisi yang bernama Gotong Royong. Namun sebagian tradisi itu telah terkikis zaman. Digilas oleh sesuatu yang begitu Besar dan Kuat yang bernama Uang atau Modal. Nafas dan tenaganya tidak dibatasi sekat-sekat negara. Mengalir seperti aliran darah dalam tubuh Indonesia.
     Ciri masyarakat Indonesia adalah masyarakat sosialis, dengan individu-individu yang larut dalam beragam corak paternalistik kesukuannya. Walaupun demikian saat ini keberagaman itu telah luntur dan mulai kehilangan jati dirinya. Uang dan Modal telah menjadi Ratu panutan mereka bersama. Lihatlah betapa dengan mudah para pemilik modal, entah dalam bentuk korporasi Industri, penguasaan media massa, bahasa politik, dunia hiburan dan semacamnya, telah membentangkan tabir antara masyarakat dengan nilai-nilai luhur mereka. Walaupun belum terkikis habis, anda akan sulit menemukan seseorang yang dengan ikhlas akan membantu mendorong mobil anda yang mogok. Bersiaplah mendengar kata-kata, “ Hanya kentut yang gratis di tempat ini..”.
     Untungnya, dari sekian banyak pesimisme yang ada, bangsa kita telah diuji oleh sejarah dan menjadi sebuah bangsa dengan daya tahan luar biasa terhadap tekanan apapun. Harapan akan sebuah Indonesia yang Adil dan Makmur tidak pernah sirna. Selalu berusaha “menghentikan penderitaan walaupun dengan cara menjalani penderitaan itu sendiri” ucap Bung Karno. Pernah mendengar cerita tentang sepatu kekecilan..?? Seseorang yang melarat dengan sengaja tetap memakai sepatunya yang kekecilan walaupun dengan keadaan sangat menderita dan kesakitan. Selain tak punya pilihan, hal tersebut dilakukannya dengan senang hati dan penuh suka cita semata-mata untuk merasakan satu-satunya kebahagiaan yang dia miliki, satu-satunya impian dan harapan yang ia punyai, satu-satunya masa yang paling ia tunggu-tunggu, yakni pada saat-saat ia melepaskan sepatu tersebut dari kakinya dan merasakan kelegaan luar biasa setelah seharian dipakai mencari nafkah..
     Jadi, akan ke mana Indonesia sesungguhnya..?? Sebuah pertanyaan gampang dengan jawaban yang sulit..!! Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya.

>>>ANDA SIAPA...??

  
Pertanyaan Awal
     Pertanyaan tersebut akan kita jawab dengan kalimat, “Kami adalah Indonesia, berasal dari Cinta dan Penderitaan dan jiwa kami adalah Pancasila”. Ya.. begitulah pencarian akan Indonesia kita awali. Indonesia adalah identitas sebuah makhluk ciptaan Tuhan yang di dalamnya ditiupkan Ruh Pancasila. Jiwanya adalah Pancasila. Kita bisa menemukan bangkainya tergeletak sesaat setelah jiwa itu yakni Pancasila telah meninggalkan tubuh cantiknya. 

Sesungguhnya Indonesia ada 
karena ideologi Pancasila itu 
hidup di dalamnya