Blogger Tricks

Sunday, December 28, 2014

>>>OBAT DAN TOBAT

     Penyakit Amnesia negeri harus segera diberi Obat dan perilaku aparat wajib dibersihkan dengan Tobat. Negara adalah tentang kehidupan antar generasi. Sebuah generasi melanjutkan rintisan generasi sebelumnya sambil mempersiapkan bekal untuk generasi berikutnya.

     Negara yang besar adalah negara yang menghargai jasa para pahlawannya. Berapa banyak derita, berapa dalam nestapa, betapa tinggi pengorbanan serta berapa banyak nyawa telah diikhlaskan untuk sebuah cita-cita kemerdekaan. Bangsa yang terpisah dari pahitnya sejarah perjuangan tak akan mampu dan tak berhak merasakan manisnya sebuah cita-cita. Hanya mereka yang sadar dan melek sejarahlah yang berhak untuk mengalami kemakmuran dan kesejahteraan.
img01. Sejarah haruslah Terang Benderang
     Mengapa bangsa ini masih terus berputar-putar dengan masalahnya sendiri? Mungkin kita perlu merenungkan dan mengembalikan ingatan kita akan sejarah perjuangan para pendiri negeri. Satu hal, mungkin sejarah itu telah kita lupakan. Namun ada hal lain yang juga mungkin terjadi, yaitu sejarah telah dibelokkan dari koridornya semula. Sejarah telah dimanipulasi untuk kepentingan sempit dan menyesatkan para penguasa. Sejarah telah dibolak-balikkan, lalu dilengkapi dengan sikap masa bodoh generasi penerus yang hanya mampu melihat sejauh nafsu dan akal pendeknya.

     Ketika sebuah masyarakat telah dicemari perilaku individualis, maka jangan lagi bertanya kemana bangsa ini akan berlabuh. Sebuah perahu dengan layar teronggok, dayung yang tergolek, kemudi yang kaku, haluan yang bengkok serta penumpang yang tertidur, sudah pasti akan terombang-ambing oleh gelombang di lautan kehidupan. Saat satu generasi hanya memikirkan penghidupan generasinya sendiri, sudah pasti tak akan mampu mengantarkan sebuah sampan harapan menuju indahnya pantai kesejahteraan dan kemakmuran.

     Ketika sebuah generasi penyelenggara negara hanya mampu mengabdi pada kepentingan diri dan kelompoknya sendiri, maka demi keutuhan bangsa dan kemajuan negara mereka harus menetapkan satu pilihan, berobat atau bertobat.


Sunday, December 21, 2014

>>>SILA KETIGA

     Sila Persatuan Indonesia adalah satu-satunya sila saat itu yang diyakini oleh Bung Karno mampu membawa Indonesia ke arah kemerdekaan hingga masa kejayaannya. Bung Karno telah lama menyadari bahwa Persatuan Indonesia adalah salah satu dasar tegaknya NKRI. Hingga malam 1 Juni 1945 beliau bahkan belum bisa memastikan rumusan cikal bakal keempat sila Pancasila lainnya, dan memohon kepada Sang Pencipta untuk membantu "memikirkannya". Keberadaan keempat sila selain sila Persatuan Indonesia (Nasionalisme) tersebut bisa dikatakan adalah "wahyu" atas permohonan beliau di malam itu.
img01. Persatuan menuju Indonesia Raya
     Persatuan Indonesia menjadi faktor mutlak menuju Indonesia Raya disadari betul oleh Bung Karno. Juga memahami bahwa seluruh faham yang masuk ke Indonesia dengan sendirinya akan mengalami desakralisasi dan melebur dalam jiwa keterbukaan serta keramahan masyarakat nusantara. Sehingga kebrutalan dan anarkisme faham tertentu dipastikan akan lenyap dengan sendirinya berganti sikap toleransi serta jiwa kekeluargaan yang menopang persatuan.

     Indonesia adalah bangsa majemuk dan terpisah-pisah secara sosial maupun geografis. Oleh karenanya, sinergi dari seluruh sumber daya yang ada mutlak diperlukan. Tanpa sinergi, berbagai kekuatan yang ada justru akan melemahkan satu sama lain. Prinsipnya, Jika tak bisa berkontribusi untuk persatuan, setidaknya kita tidak mengambil bagian pada perpecahan. Jika belum mampu berbuat baik, paling tidak berjuanglah untuk tidak melakukan kejahatan. Jika belum bisa move on, ada baiknya anda standby saja. Sebab mundur selangkah akan fatal akibatnya saat anda membelakangi jurang. Gugur satu tak tumbuh lagi jika yang tertinggal hanyalah PERSATUAN itu sendiri.


Sunday, December 14, 2014

>>>MEJA #09


Menu: Ujung Demokrasi


Sore ini om Pitok dan tiga konconya sedang membahas Demokrasi di warkop Rasidemok. Terdengar ada tiga jenis demokrasi yang mereka perbincangkan.


Om Pitok : "Demokrasi itu ada 3 macam, masing-masing dengan ujung yang berbeda."

Si Abang dan mas Burjo: "Apa aja tuh om..? Kita pengen belajar nih.." keduanya menyahut hampir bersamaan.
Om Pitok: "Demokrasi Murni, Demokrasi Wani Piro dan Demokrasi Pancasila."
Bung Wani Piro: "Lho.. kok ada nama saya? Emang bedanya apaan? Jadi penasaran..."
Om Pitok: "Demokrasi murni ujungnya Dominasi, Demokrasi Pancasila ujungnya Toleransi"
Bung Wani Piro: "Lho punya saya..., apa ngga ada ujungnya?" Si Abang dan mas Burjo cekikikan mendengar pertanyaan Bung Wani Piro.
Om Pitok: "Demokrasi Wani Piro ujungnya Nasi bau Terasi. Mengenyangkan tapi bau..!!"
Si Abang dan Mas Burjo: "Ha ha ha ha.... sabar ya Bung Wani Piro.. itu cuma masalah demokrasi. Bukan tentang anda..!!" Si Abang dan Mas Burjo melanjutkan tawanya tanpa menghiraukan Bung Wani Piro yang tampak kesal.
Om Pitok kemudian menjelaskan mengapa Demokrasi Pancasila adalah jenis demokrasi yang paling cocok buat Tanah Air kita yang sangat majemuk dan heterogen ini.

 

Sunday, December 7, 2014

>>>MEKANISME CINCIN JARING

     Sebagai negara maritim ada baiknya Indonesia mengambil falsafah maritim juga dalam tata kelola dan tahapan pembangunannya. Yang paling dekat adalah dengan memperhatikan proses penangkapan ikan tradisional oleh nelayan nusantara dengan menggunakan jaring atau pukat sederhana. Jika kita amati, jaring nelayan tersebut dilengkapi cincin pemberat di beberapa titik terluar jaring mereka.

     Proses membangun dengan mekanisme cincin jaring adalah dengan menciptakan sejumlah pusat pertumbuhan ekonomi pada daerah dan wilayah terluar negeri dengan daya pacu yang setara. Tentu saja dengan tetap memperhatikan komoditas dan potensi unggulan daerah setempat. Bisa digambarkan sebagai jaring nelayan dengan beberapa cincin pemberat pada sisi terluar jaring, seperti disebutkan tadi.
img01. Jaring Nelayan
     Ketika kepala jaring yang berada pada bagian tengah ditarik (mewakili pertumbuhan di pusat pemerintahan) maka cincin jaring dalam air bergerak ke dalam untuk memastikan jaring memberikan hasil tangkapan yang optimal. Tentu hasilnya akan jauh berbeda jika jaring tersebut tidak  memiliki cincin pemberat.

     Cincin jaring ini bisa dianalogikan; kota terluar sebagai sentra ekonomi dan pusat pertumbuhan mandiri dengan infrastruktur dan sarana penunjang lengkap seperti pasar rakyat berskala besar, kawasan pergudangan, bandara dan pelabuhan kapasitas sedang hingga besar, jalur transportasi dari dan ke pedesaan sampai kepada pemanfaatan teknologi informasi sederhana dalam pengelolaan kotanya.

     Kota-kota mandiri tersebut haruslah cukup banyak dan tersebar merata di sekitar garis wilayah terluar nusantara. Semakin banyak jumlahnya maka semakin merata pula hasil pembangunan yang kita dapatkan. 


Sunday, November 30, 2014

>>>KEMENANGAN SEJATI

     Kemenangan Sejati bukanlah kemenangan saat ini. Kemenangan saat ini hanyalah awal dari kekalahan yang mengintip. Raihlah kemenangan saat menjadi pemenang dan ketika kekalahan mendera. Itulah Kemenangan Sejati. 

     Mabuk oleh kemenangan sama tragisnya dengan kekalapan saat kalah. Mabuk kemenangan akan mempercepat datangnya nestapa dan kalap oleh kekalahan akan menunda kebahagiaan. Kemenangan Sejati tak mengenal kata pemenang dan pecundang. Ia hanya mengenal kata "sementara". Kemenangan sejati dapat dirasakan oleh kedua pihak. Syukur dan tetap membumi saat menang, sabar dan giat belajar saat kalah adalah dua sayap Kemenangan Sejati.
img01. Kemenangan Sejati memiliki dua sayap.
     Kemenangan dan kekalahan akan terus bertukar bagaikan langkah kaki kiri dan kanan. Ketika kanan melangkah lebih dulu, ia tak kan tenggelam dalam euforia kemenangannya. Ia segera bekerja sekuat tenaga untuk menopang seluruh tubuh bangsa. Dengan waktu yang lebih luang kaki kiri akan menggunakan seluruh daya upayanya agar mampu menyiapkan diri lebih baik pada momentum persaingan berikutnya. Idealnya langkah kanan dan kiri akan terus bertukar, walaupun dalam realita sehari-hari, pihak yang paling mampu memanfaatkan peluang dan kesempatanlah yang berhak menerima amanah dari rakyat.

     Kemenangan satu pihak haruslah merupakan kemenangan rakyat seluruhnya. Pembangunan harus bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat pendukung kedua belah pihak. Egoisme kelompok adalah ciri pemenang semu yang menunggu matahari terbenam. Sedangkan kemenangan sejati adalah cahaya bagi kegelapan. Ia akan ditemukan baik pada teriknya siang maupun dalam sunyi dan gelapnya malam .