>Maaf Pak Pendeta, kami mengalami sedikit masalah. Sepuluh menit lagi kami sampai< Made mengungkap alasan keterlambatan mereka dan segera berputar arah, melaju cepat ke arah Pura Uluwatu.
Sinar purnama tertutup awan tebal, namun perlahan menyembul menyinari jalan di depan mereka. Lalu lintas yang sepi memberi kesempatan pada Made untuk memacu kendaraan secepat mungkin. Ia tak ingin membuat Pak Pendeta menunggu terlalu lama. Helena masih terlihat senyam-senyum sendiri, entah apa yang ada di pikirannya. Sementara Bon-Bon nampak sibuk dengan gawai, Ia baru saja menerima pesan WA dari Mercy. Wajahnya sumringah.
Bon-Bon mengamati petunjuk waktu dalam gawai. Zona lokal menunjukkan waktu 20:21, sementara Zona II menunjukkan waktu 05:21. Saat mereka berpindah dimensi, waktu baru menunjukkan pukul 20:20.
Made kembali mengamati kalung misterius di tangan kekasih. Perlahan pandangannya bergerak ke atas, ke wajah Helena. Made terkesima memandang wajah Sang Kekasih. Ia nampak cantik dan begitu mempesona. Apakah aura mustika sedang larut menyebar ke wajahnya? Belum pernah Helena terlihat semenarik ini hingga membuat Made gugup dan lupa bahwa ia masih sedang menyetir mobil. Sebuah kelalaian yang bisa berakibat fatal. Bon-Bon cemas menyaksikan gelagat Made.
Made tiba-tiba saja menghentikan mobil. Bon-Bon dan Helena terkejut. Tak Made tiba-tiba saja menghentikan mobil. Bon-Bon dan Helena terkejut. Tak ada sesuatu di depan mereka yang membuat mobil harus berhenti mendadak.
Ketiganya beranjak pergi, namun pikiran Bon-Bon masih tertuju pada kalung misterius itu. Ia sangat ingin memilikinya. Saat tangan hendak meraih gagang pintu mobil, ia berbalik. Kembali menghampiri Sang Kakek.