Tahap Ketujuh
Saatnya mengadopsi dua warna terakhir; hijau dan hitam. Fokus di area tengah telah tuntas. Kita beralih ke sisi lain formasi bendera baru. Di kiri dan kanan terbentuk formasi sejumlah enam strip kuning. Terdapat celah ruang untuk mengadopsi warna berbeda di sana. Kita mulai dengan mengganti warna strip kuning di bagian atas dan bawah sehingga menyisakan warna kuning di tengah-tengah, perlambang wilayah subur dan kaya emas di lintasan garis katulistiwa.
Tahap ini kita menggunakan warna hitam sebagai warna pengganti. Hitam
melambangkan spiritualitas, keheningan, ketenangan dan stabilitas.
Formasi yang tercipta memberi kesan lebih stabil dan pasif. Namun hal ini mengurangi kesan terbuka dan ceria yang merupakan watak asli masyarakat Nusantara. Kita akan mencoba opsi lain di tahap berikut.
Tahap Kedelapan
Sekarang kita buat alternatif warna hijau sebagai pengapit. Hijau melambangkan
kehidupan, kesuburan, kedamaian. Hijau juga identik dengan lingkungan sehat.
Beberapa lembaga keagamaan Islam menggunakan warna ini sebagai ciri khas
keislaman mereka yang berusumber dari Arab.
Dari segi ideologi, hijau mengakomodasi golongan agama (mayoritas), sehingga
upaya merongrong ideologi negara menuju bentuk Negara Islam paling tidak dapat
direduksi sampai batas tertentu.
Formasi ini memberi kesan ringan, terbuka dan damai. Namun kesan stabil dan berkarakter dari strip warna hitam sebelumnya kini hilang. Ada baiknya memadupadankan kedua warna tersebut agar tecipta harmoni yang lebih indah.
Tahap Terakhir
Formasi silang/diagonal akan terasa lebih tepat untuk mendapatkan keseimbangan antara strip hitam dan hijau. Hal ini juga melambangkan dinamika, siklus dan kesinambungan. Kedua warna pengapit saling melengkapi satu sama lain.
Siklus dan Keseimbangan adalah hukum tertinggi semesta. Dengan begitu kita berharap, dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara kita akan tetap selaras serta mematuhi kehendak semesta. Kita adalah negeri yang memiliki jati diri namun di saat bersamaan juga berjiwa universal.
Strategi bendera ini dapat menjadi salah satu karang pemecah ombak dalam menghadapi rongrongan terhadap kedaulatan dan ideologi negara. Soft Power sebagai counter terhadap strategi False Flag dapat menjadi alternatif dengan resiko sosial yang minim.