Blogger Tricks

Thursday, January 2, 2014

>>>POLITIK KEKUASAAN

     Eksistensi sebuah bangsa ditopang oleh sebuah sistem politik yang mapan. Sistem politik akan berbeda di masing-masing negara bergantung kepada siapa dan untuk apa politik itu dipergunakan. Puncak dari sistem politik berujung kepada kekuasaan. Kekuasaan di setiap tempat memiliki ciri tersendiri sesuai dengan sifat dan struktur sosial yang berlaku dalam masyarakatnya.
     Dalam sebuah negara otoriter sistem politik lebih mengedepankan pemusatan kekuasaan kepada sosok seorang pemimpin. Seorang pemimpin dalam negara otoriter memiliki kekuasaan yang sangat besar. Walaupun biasanya sistem seperti ini sangat efektif untuk menjalankan roda pemerintahan, namun dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan kekecewaan yang besar pula. Mengingat seorang pemimpin hanyalah seorang manusia juga. Ia bukanlah Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Sempurna.
img01. Semburan air mancur
     Sistem Politik Kekuasaan bisa digambarkan seperti semburan air mancur di sebuah taman kota. Air yang nampak kokoh dan tegak berdiri namun yang sebenarnya terjadi adalah siklus antara kekuatan semburan dan tarikan grafitasi. Kekuatannya hanya akan bertahan sampai pada batas keseimbangan kedua kekuatan tersebut. Kecenderungannya adalah kekuasaan dapat jatuh dan terjungkal setiap saat. Sistem politik seperti ini tak akan mampu memberikan kesinambungan kekuasaan bagi siapapun dalam sebuah bangsa.
     Ketika sebuah kekuasaan otoriter berganti, maka masyarakat tetap akan menjadi korban dari sebuah proses Politik Kekuasaan. Perilaku bongkar pasang pejabat menjadi ciri khas dan lumrah terjadi ketika sebuah pemerintahan baru bertahta. Politik Kekuasaan mirip dengan perilaku seseorang yang lebih memilih berganti mobil daripada bertukar sopir. Sebuah keputusan sederhana namun akan membawa rentetan konsekwensi lebih banyak di kemudian hari.


Sunday, December 29, 2013

>>>MELAWAN DEMOKRASI WANI PIRO

     Demokrasi Wani Piro (DWP) adalah demokrasi ala Barat yang telah dikemas dengan cantik dalam bingkai dan semangat industrialisasi. Segala hal dipandang dalam dua hal yakni modal dan pasar. Singkatnya ada uang, ada barang. Sebuah skema berpikir yang tentu sah-sah saja dalam dunia bisnis pada umumnya.
     Namun jika faham tersebut diterapkan secara membabi buta ke dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara kita, maka ideologi negara Pancasila kita, cepat atau lambat akan tercerabut dari akarnya sendiri. Akhir-akhir ini beberapa peristiwa politik tanah air telah memperlihatkan dengan gamblang gejala tersebut.
     Mulai dari suara pemilih yang diperjualbelikan, keadilan yang akhirnya ditransaksikan, kebenaran juga bisa dimonopoli, keyakinan boleh digadaikan atau sampai kepada sikap partai yang kadang bertentangan dengan ideologinya sendiri hanya oleh pertimbangan-pertimbangan kalkulatif dan transaksional belaka. Contoh tersebut masih terlampau sedikit untuk disebutkan satu persatu. Tentu hal seperti ini membuat seluruh anak bangsa yang masih memiliki idealisme terhadap cita-cita bangsanya akan merasakan keprihatinan yang mendalam.
img01. Warung Kopi
     Melumpuhkan faham DWP cukup dengan menegakkan faham Demokrasi Warung Kopi (DWK). Datang sendiri-sendiri, ngopi bareng lalu masing-masing pulang dengan perasaan senang. Tak ada transaksi sama sekali di antara para pengunjung, kecuali kepada seorang kasir kedai kopi. Yang harus disepakati tentu hanyalah harga dan memastikan siapa si Kasir itu sendiri.
     Dalam kehidupan kebangsaan, faham DWK selaras dengan semangat kegotongroyongan dan dapat disimpulkan sebagai transparansi serta  keterbukaan seluas-luasnya dalam segala aspek birokrasi dan ketatanegaraan kita. Kemudian memastikan dengan akurat agar segala potensi pendapatan Negara benar-benar terkawal dan diterima oleh Negara. Hasil yang terkumpul selanjutnya didistribusikan secara adil dan merata untuk sebesar-besar kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. 


Thursday, December 19, 2013

>>>TIGA SISTEM


img01. Mesh/Ayakan
     Secara sederhana interaksi politik dalam pengambilan keputusan dapat digambarkan dalam tiga gambaran. Pertama adalah tipe “Mesh”, adalah pengambilan keputusan dengan mekanisme voting. Karakteristik pengambilan keputusan seperti ini meniru bentuk-bentuk dalam sebuah proses filterisasi dalam kehidupan sehari-hari dimana hanya benda-benda berukuran lebih besar saja yang tertinggal di atas, sedangkan yang kecil-kecil akan terjatuh dan hilang dari permukaan. Akibat dari proses pengambilan keputusan seperti ini unsur-unsur minoritas tak akan memberikan kontribusi apapun terhadap hasil dari keputusan yang diperoleh dan juga menjadi tidak terwakili lagi di dalamnya.
img02. Blender
     Jenis kedua adalah tipe “Blender”, yaitu pengambilan keputusan dengan merangkum semua unsur yang ada, menguliti seluruh identitas individu maupun kelompok dan kemudian dilebur menjadi satu sehingga menghasilkan sebuah keputusan yang baru sama sekali tanpa ciri-ciri dan bentuk-bentuk pikiran yang khas dari para kontributornya. Interaksi seperti ini biasanya terlihat dalam sebuah sistem otoriter dimana terjadi penyeragaman pikiran dengan doktrin-doktrin yang mewakili kepentingan penguasa setempat.
img03. Puzzle
     Bentuk ketiga adalah tipe “Puzzle”, merupakan mekanisme pengambilan keputusan melalui cara musyawarah untuk mufakat. Bisa digambarkan sebagai perilaku kepingan-kepingan puzzle dengan coraknya sendiri-sendiri. Ketika kepingan-kepingan tersebut berinteraksi satu sama lain dan akhirnya memutuskan untuk mengambil sebuah posisi yang membuatnya nyaman, maka sejumlah kepingan puzzle tadi akan segera memperlihatkan gambar baru yang unik. Gambar akan terlihat jelas saat para pengamat menyaksikannya dalam jarak pandang yang cukup serta ruang pemahaman yang luas. Identitas setiap kepingan puzzle akan kembali terlihat dengan jelas saat jarak pandang pengamat didekatkan pada jarak tertentu.
     Keputusan yang lahir dari interaksi seperti ini akan tetap menggambarkan keterwakilan unsur-unsur minoritas, meskipun secara garis besar pikiran-pikiran dari anggota terbanyaklah yang akan disepakati bersama. Kelemahannya adalah proses tersebut akan memakan waktu lebih lama serta proses yang berkepanjangan. Namun hal tersebut dapat disiasati dengan meningkatkan intensitas pertemuan dan dialog di luar arena sidang-sidang formal. Dalam tipe “Puzzle” inilah sesungguhnya wilayah Demokrasi Pancasila itu menunjukkan identitasnya.


Friday, December 13, 2013

>>>SILA KEDUA

Kemanusiaan yang adil dan beradab
     Keadilan yang beradab akan menjelma menjadi peradaban yang adil. Adil adalah menyangkut perletakan sesuatu sedangkan adab adalah tentang cara meletakkannya. Kemanusiaan adalah hubungan antara manusia sebagai pelaku sekaligus obyek yang diletakkan tersebut.
img01. Adil dan setimbang
     Secara sederhana seseorang akan dianggap adil jika memberikan sesuatu dengan jumlah yang sama kepada beberapa orang. Namun dalam proses pemberian tersebut akan muncul masalah jika dilakukan dengan cara berbeda antara satu dengan yang lainnya. Terutama jika menyangkut tentang kapan, bagaimana, di mana dan berapa lama waktu yang dibutuhkan masing-masing individu dalam menerima hak mereka. Di sinilah letak perbedaan antara kata adil dan beradab pada sila kedua Pancasila di antara lima sila yang ada.
     Keadilan hanya bisa ditegakkan dalam lingkungan yang beradab. Sementara peradaban yang maju akan ditandai dengan tegaknya keadilan dalam sebuah masyarakat atau bangsa. Untuk menegakkan keadilan maka hal utama yang perlu dibenahi adalah moral dan perilaku atau adab manusia-manusia di dalam sebuah komunitas. Tanpa adab yang luhur serta mulia maka keadilan hanya akan menjadi sesuatu yang mustahil.
     Rasa kemanusiaan menuntut seseorang untuk memperlakukan orang lain dengan menggambarkan orang tersebut sebagai dirinya sendiri, sebagai sesama manusia. Rasa sakit saat mencubit kawan kita dapat kita rasakan dengan meminta kawan tadi untuk mencubit diri kita. Dengan perumpamaan yang sama maka segala tingkah laku yang dilandasai dengan rasa kemanusiaan dapat diukur ketika proses interaksi setiap individu berlangsung di dalam masyarakat.
img02. Anak-anak Manusia
     Ketidakadilan dalam masyarakat diawali dengan pengingkaran terhadap rasa kemanusiaan. Pengingkaran terjadi diawali oleh rendahnya adab yang tergambar dalam perilaku dan moralitas sebuah bangsa. Bangsa dengan peradaban luhur tidak akan menghadapi masalah dengan keadilan. Keadilan dalam sebuah bangsa akan tegak dengan didahului tumbuhnya nilai-nilai luhur dalam hidup keseharian para warganya.
     Sebuah bangsa akan bangkit dan berjaya diawali dengan pulihnya norma-norma kehidupan serta adab pergaulan di dalam negerinya sendiri. Kemudian dilengkapi dengan meluas dan berkembangnya identitas tersebut kepada bangsa-bangsa lain di sekitarnya. Namun tentunya, hal-hal besar selalu dimulai dari perhatian kepada hal-hal kecil. Jadi, mulailah dari diri sendiri kemudian keluarga, lalu terus meluas hingga berdampak kepada lingkungan di sekitar kita.


Friday, December 6, 2013

>>>SENJATA PENAKLUK

img01. Pohon Nuklir
     Seberapa besarkah kekuatan senjata nuklir? Jawabannya, tak lebih kuat dari tekanan sebuah tombol. Pedang pun tak lebih hebat daripada pena seorang penulis. Lalu senjata apakah yang paling dahsyat di permukaan bumi ini...? Mungkin kedengaran aneh kalau jawabannya adalah pikiran.
     Pikiran mengendalikan seluruh perilaku manusia. Pikiran pula yang membedakannya dari bangsa hewan. Manusia adalah hewan yang berpikir. Dan ketika manusia berhenti atau lupa berpikir, maka secara ilmiah ia hanyalah seekor hewan berwujud manusia. Namun, sehebat-hebatnya hewan terpandai ia takkan mampu menciptakan senjata pemusnah massal mengerikan. Seganas-ganasnya hewan pemangsa, mereka tak sampai memangsa lebih banyak dari kapasitas perut mereka. Sedangkan manusia lebih dari mampu untuk melakukannya. 
     Selain pikiran, dalam mengambil sebuah keputusan manusia juga dilengkapi dengan rasa atau insting. Insting manusia jauh berbeda dengan insting hewani. Namun demikian insting hewani masih tetap terpatri kuat dalam watak dasar manusia. Pikiran manusialah yang mengasah insting hewani tersebut menjadi insting yang lebih cerdas. Insting yang seharusnya lebih mempertegas eksistensi kemanusiaan seorang manusia.
     Dalam kaitan ini, Bung Karno mempertentangkan kekuatan bom atom sekutu dengan kehebatan cita rasa seni bangsa Indonesia. Bung Karno jauh memandang dan menilai sosok di belakang peluncuran bom atom dan sosok manusia pelaku seni dalam diri bangsanya. Bom atom hanyalah benda mati tanpa daya. Manusia penggunanyalah yang bertanggungjawab atas kerusakan yang terjadi. Manusia dengan insting hewani.
img02. War and Peace
     Bung Karno hanya membedakan antara sosok manusia perusak dan sosok manusia penopang. Seni adalah sebuah kekuatan penopang. Seni menopang hakikat keberadaan manusia di muka bumi. Seni memanusiakan manusia. Seni adalah senjata penakluk yang mampu menghentikan kehendak berperang dan saling menghancurkan dari insting hewani manusia. Seni menyehatkan pikiran dan menyegarkan rasa para penikmatnya. Terlebih penting lagi seni hanya bisa dinikmati dan dirasakan oleh makhluk bernama manusia.